Kewajiban memasang sutrah

Sutrah dalam sholat menjadi keharusan imam dan orang yang sholat sendirian. Berikut adalah hadits – hadits yang menerangkan kewajiban sutrah dalam sholat.

“Janganlah kamu sholat tanpa memasang sutrah dan janganlah engkau membiarkan seseorang lewat dihadapan kamu (tanpa engkau cegah), jika dia memaksa terus lewat didepanmu, lawanlah dia karena dia ditemani oleh setan” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya (1/93/1) dengan sanad jayyid (baik)).

“Bila seseorang di antara kamu shalat menghadap sutrah, hendaklah dia mendekati sutrahnya sehingga setan tidak dapat memutus shalatnya” (HR. Abu Dawud, Al-Bazzar dan Hakim)

“Bila beliau shalat (di tempat terbuka yang tidak ada sesuatu pun menutupinya), beliau menancapkan tombak didepannya, lalu sholat menghadap tombak tersebut, sedang para sahabat bermakmum dibelakangnya” (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah)

“Terkadang beliau melintangkan hewan tunggangannya di hadapan beliau, lalu beliau shalat menghadap hewan tersebut” (HR. Bukhari dan Ahmad)

Hal ini berbeda dengan kasus sholat di kandang unta, karena shalat di tempat tersebut dilarang.

“Terkadang beliau mengambil pelana, lalu meletakkannya di depan beliau, kemudian beliau shalat menghadap ke arahnya” (HR. Muslim, Ibnu Khuzaimah dan Ahmad)

“Beliau juga pernah shalat menghadap ke pohon”(HR. Nasa’i dan Ahmad)”dan terkadang beliau menghadap ke tempat tidur dimana ‘Aisyah tidur (di atasnya dengan berselimutkan kain beludru)”(HR. Bukhari, Muslim dan Abu Ya’la)

“Terkadang beliau memilih di dekat tiang yang terdapat di dalam masjidnya” (HR. Ahmad )

Jarak Sutrah (Pembatas)

“Nabi SAW berdiri shalat dekat sutrah (pembatas) yang jarak antara beliau dengan pembatas di depannya 3 hasta” (HR. Bukhari dan Ahmad)

“Jarak antara tempat sujud dengan pembatas tersebut kurang lebih cukup untuk dilewati seekor anak kambing” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau tidak pernah membiarkan apa pun lewat di depan sutrahnya

Beliau pernah melakukan shalat wajib, lalu tiba – tiba menggenggamkan tanganya. Ketika selesai shalat para sahabat bertanya : “Wahai Rasululla, apakah ada sesuatu yang baru dalam shalat?” Sabdanya, “Tidak, tetapi sesungguhnya setan hendak lewat dihadapanku lalu aku cekik sampai tanganku merasakan dinginnya mulut setan itu. Demi Allah, seandainya saudaraku, Nabi Sulaiman, tidak mendahului aku, niscaya akan aku ikat setan itu di salah satu tiang masjid ini supaya bisa dilihat oleh anak – anak penduduk Madinah.(Oleh karena itu, siapa saja dapat memasang sutrah di hadapannya sehingga orang lain tidak dapat melewatinya, lakukanlah)” (HR. Ahmad, Daraquthni dan Thabarani)

“Bila seseorang diantara kamu sholat menghadap sesuatu yang dapat menghalangi orang lain untuk lewat, kemudian bila ada orang yang hendak melanggarnya, hendaklah kamu tolak sejauh kemampuanmu sebanyak 2 kali. Jika dia bersikeras melakukannya, hedaklah kamu lawan orang itu karena orang seperti itu adalah setaan”(HR. Bukhari dan Muslim dan riwayat lain oleh Ibnu Khuzaimah (1/94/1))

“Sekiranya orang yang lewat di depan orang yang sedang shalat tahu betapa besar dosanya, ia lebih baik berdiri selama empat puluh(masa) di depan orang itu daripada melaluinya” (HR. Bukhari dan Muslim dan riwayat lain oleh Ibnu Khuzaimah (1/94/1))

Ibnu Hani’ dalam Kitab Masa’il dari Imam Ahmad, “Pada suatu hari saya sholat tanpa memasang sutrah di depan saya, padahal saya melakukan shalat di dalam masjid Jami’. Imam Ahmad melihat kejadian ini, lalu berkata kepada saya: “Pasanglah sesuatu sebagai sutrahmu”, kemudian aku memasang orang untuk menjadi sutrah”.

Komentar al-Albani,”Kejadian ini merupakan isyarat dari Imam Ahmad bahwa orang yang sholat di masjid besar maupun di masjid kecil tetap berkewajiban memasang sutrah di depannya. Pendapat inilah yang benar, namun kebanyakan orang yang sholat di masjid – masjid besar atau yang lain di semua negeri mengabaikan hal ini, termasuk Saudi yang saya lihat ketika pertama kali saya berkesempatan thawaf di Masjidil Haram pada bulan Rajab tahun 1410 H. Hendaknya para ulama mengingatkan ini dan menjelaskan kepada mereka hukumm memasang sutrah. Kewajiban ini juga berlaku di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.”

Sumber : Buku Sifat Shalat Nabi (Muhammad Nashiruddin Al-Albani) Penerbit Media Hidayah Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>