Medan magnet zina

1. Pandangan Mata

Ibnu Qayyim Al Jauziyah berkata : “Allah menjadikan mata sebagai cermin hati. Jika seorang hamba menutup matanya (dari yang haram), maka hati akan menutup syahwat dan keinginan buruknya, namun jika dia mengumbar pandangannya, maka hati akan mengumbar syahwatnya” Beliau melanjutkan , “ketika pandangan mata telah meninggalkan pengaruhnya di hati, jika pelakunya teguh dan berusaha lalu memutusnya dari awal, maka dengan mudah terobati. Akan tetapi jika ia mengulang pandangannya, membayangkan kecantikan rupa lalu mentransfernya ke dalam hati yang kosong maka rasa cinta akan tertanam kokoh didalamnya. Setiap kali ia mengarahkan pandangan maka seperti air yang menyuburkan tanaman. Pohon cinta itu tumbuh dan berkembang hingga merusak hati, lalu hati akan mengomando pikiran sesuai keinginannya, hingga membawa pemiliknya kepada bala’ dan menyebabkan terjerumusnya ke dalam dosa – dosa dan fitnah.

Antara mata dan hati terdapat pintu terbuka dan jalan penghubung antara keduanya. Apa yang dikonsumsi oleh mata, itu pula yang akan mendominasi hati. Bahkan masuknya pengaruh pandangan mata ke dalam hati melebihi kecepatan masuknya udara ke tempat yang kosong. Jika yang dikonsumsi mata adalah sesuatu yang haram maka hati yang merupakan komandan seluruh jasad akan ternoda, dia tidak menyuruh kecuali yang haram.

SIKLUS DOSA
dijelaskan oleh ibnul qayyim Al Jauziyah (muharikul qulub/motivator hati) di dalam bukunya Al-Jawabul Kafi.

Pertama : bermula dari pandangan. Khususnya jika obyek yang dipandang adalah wanita (jika yang memandang laki – laki), atau sebaliknya, bisa juga berupa gambar atau film. Dari pandangan ini hampir pasti meninggalkan bekasnya, seberapapun kadarnya.

Kedua : Siklus akan beralih dari pandangan menuju lintasan hati. Hati merekam apa yang dilihatnya, wajahnya, auratnya dan apapun yang berkesan setelah pandangan mendarat pada sasarannya. Pada terminal ini, teramat sulit untuk membendung bola salju yang telah menggelinding hingga sampailah ia pada siklus yang lebih akut.

Ketiga : dari lintasan hati akan melahirkan pikiran. Indahnya obyek pandangan senantiasa terbayang dibenaknya hingga hati sibuk memikirkannya. Diapun berangan – angan : “Seandainya saja…”, “mungkinkah aku…”, “bagaimana caranya…” dan angan – angan lain yang menyibukkan sebagaian aktivitas pikiran dan hatinya. Bayang – bayang itu pula yang memenuhi rongga hati dan otaknya.

Keempat : Disaat akal sibuk memikirkannya, hati antusias untuk membayangkannya, secara otomatis siklus berikutnya telah dimasukinya yakni hadirnya syahwat. Ya, serta merta syahwat akan hadir disaat orang membayangkan wanita telanjang, atau berfikir seandainya yang mejadi aktor film porno yang dilihatnya itu adalah dirinya. Pada titik ini, nasib imannya sudah di ujung tanduk, benteng pertahanannya sudah nyaris ambruk. Karena dia memasuki fase yang lebih berbahaya.

Kelima : Hadirnya syahwat akan melahirkan ‘indah’, kemauan untuk melampiaskannya. Jika dia telah membayangkan orang berzina, niscaya timbul kemauan dia untuk melakukannya.

Keenam : Jika iradah semakin menguat maka terciptalah ‘azimah jazimah’, tekad yang kuat atau gejolak nafsu yang membara. Dan jika tekad telah bulat, perbuatan zina akan sulit dibendung. Siklus ini sulit dihentikan bila terlanjur berputar. Tak heran jika kebanyakan orang melakukan pemerkosaan bermula dari nonton film porno. Dan umumnya tidak puas berhenti di satu titik sebelum dia bertaubat nashuha atau dihentikan sangsi yang dijatuhkan atasnya.

Muhammad Amin Asy-Syanqithi mengatakan, “Menundukkan pandangan diwajibkan karena dikhawatirkan akan masuk ke dalam fitnah. Tidak diragukan lagi, bahwa sentuhan anggota tubuh laki-laki ke tubuh wanita asing merupakan faktor yang paling kuat untuk membangkitkan naluri syahwat dan pendorong yang paling kuat menuju fitnah dibandingkan pandangan mata. Setiap orang normal mengetahui kebenaran hal ini.” (Adhawaa’ul Bayaan)

2. Berduaan, Apalagi Pacaran

Berduan, adalah medan yang paling dekat dengan perzinaan. Dan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa salam melarang kegiatan berduan ini dalam sabda beliau : “Janganlah seorang laki – laki berkhalwat dengan seorang wanita bukan mahramnya, dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya“(HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika dua insan lain jenis berduaan, maka setan akan hadir sebagai pihak ketiga. Pihak yang akan memprovokasi keduanya hingga sama-sama berhasrat untuk melakukan zina.

Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi wa salam bersabda, “Tak seorangpun yang berduan dengan seorang wanita (yang bukan mahram) melainkan pihak ketiga adalah setan” (HR. Tirmidzi)

Aktivitas pacaran menyebabkan seluruh anggota badan pelakunya mendapat bagian zina, Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda, “Zinanya mata adalah melihat, zina telinga adalah mendengar, zina lidah adalah berkata, zina tangan adalah menyentuh, zina kaki adalah berjalan, zina hati adalah ingin dan berangan – angan. Dibenarkan hal ini oleh kelaminnya atau didustakannya” (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi mengatakan, “Makna hadits di atas, bahwa setiap anak Adam ditakdirkan untuk melakukan perbuatan zina. Di antara mereka ada yang melakukan zina sesungguhya, yaitu memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluan wanita secara haram. Diantara mereka ada zinanya bersifat majazi, yakni dengan melihat hal – hal yang haram, atau mendengarkan sesuatu yang mengarah pada perzinaan dan usaha – usaha untuk mewujudkan zina, atau dengan bersentuhan tangan atau menyentuh wanita asing dengan tangannya, atau menciumya. Atau, dengan melangkahkan kaki menuju tempat perzinaan, melihat, menyentuh atau bercakap – cakap yang diharamkan bersama wanita asing, atau berangan – angan dengan hatinya.”

Larangan bersentuhan dengan wanita itu bukan hanya disertai syahwat atau tidak. Menyentuh wanita bukan mahram dilarang karena dikategorikan sebagai bagian dari zina, yaitu zina kulit.

Siapakah orang yang menjalani pacaran tanpa melihat si pacar?
Tanpa mendengar kata – kata cinta penggugah nafsu dari sang pacar?
Tanpa mengucapkan kata – kata romantis pemantik syahwat?
Tanpa pegang – pegang meskipun hanya telapak tangan?
Tanpa berjalan untuk berkencan?

Dan, meskipun tidak semuanya, jarang sekali yang berhenti sebelum mencapai penghabisan langkah setan yang diikutinya, yakni zina. Nas’alullahal ‘afiyah.

Sebagian mereka merasa terlalu percaya diri dan berbangga, meskipun sudah lama berpacaran, toh kamu belum pernah berzina, begitu kilahnya. Dia tidak tahu atau pura – pura tidak tahu bahwa cukup dikatakan dosa aktivitas pacaran yang selalu dilakukan selama ini, baik memandang berkali – kali, berduaan, memegang dan yang lain. Anda saja tidak sampai terjadi zina, cukuplah dia dikatakan telah menabung dosa.
Tragisnya, pacaran sudah menjadi tren generasi muda masa kini. Mereka gelisah ketika sudah dewasa sementara belum memiliki pacar. Bahkan, terkadang orang tuapun ikut merasa was – was bila anak gadisnya yang sudah dewasa tidak mempunyai pacar.

Jadi masihkah kita berfikir untuk melakukan pacaran, yang ternyata tiada manfaat sedikitpun kecuali hanya mengumpulkan dosa yang kelak akan diperntanyakan Allah SWT kepada kita dan haruslah kita siap akan Azab atas dosa yang pernah kita perbuat. Selain itu ternyata kekerasan tidak hanya muncul dalam rumah tangga saja, tetapi juga saat pacaran pun sudah muncul pelecehan. Baik pelecehan fisik maupun non fisik, masih berfikir untuk pacaran?????

Semoga kita semua dijauhkan dari hal – hal yang dilarang dan dimurkai Allah SWT dan Rasulallah SAW.Amiin

Sumber : Kumpul Kebo, bahaya dan solusinya secara syar’i (Ir. Joko Kuswanto, MM. Wafa Press)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>