Kekeliruan pada Awal Tahun Hijriyah

Menjadikan tanggal 1 Muharram sebagai tempat bagi ibadah tertentu yang tidak ada ketentuannya dari syariat, dan meyakini fadhilah – fadhilah tertentu yang juga tidak ada tuntunannya, seperti

Doa akhir dan awal tahun

Mengkhususkan doa tertentu, Doa awal tahun dan fadhilahnya, begitu pula do’a akhir tahun dan fadhilahnya. Do’a tersebut adalah sesuatu yang di ada – adakan, tidak ada asalnya dari Rasulullah maupun dari para sahabatnya, dan para tabi’in, serta tidak disebutkan baik di dalam kitab – kitab musnad maupun kitab kumpulan hadits – hadits maudhu’ sekalipun. Ia hanyalah karangan dari sebagian orang – orang.

Yang lebih hebatnya lagi adalah kedustaan do’a tersebut atas nama Allah dan Rasul-Nya. Ia telah menentukan fadhilah bagi pembaca do’a tersebut, tanpa ada dasar wahyu. Ia berkata, “Siapa yang membacanya maka setan akan berkata sedih: “Kita sudah susah payah menggodanya selama setahun ternyata ia merusak usaha kita hanya dalam sesaat.”"

berdoa tidak ada malasah, yang bermasalah kenapa kita mengkhususkan doa tertentu dan doa itu dikhususkan di awal dan akhir tahun? Apa dasarnya? Kalau tidak ada petunjuk dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenapa diamalkan?

Puasa Akhir dan Awal Tahun

Puasa awal dan akhir tahun beserta fadhilahnya. Imam al-Fatani dalam kitab “Tadzkiratul Maudhu’at” menyatakan : Dalam hadits yang artinya: “Barang siapa yang berpuasa pada akhir dari bulan dzulhijjah dan pada hari pertama dari muharram maka ia telah menutup tahun yang telah berlalu dengan ibadah puasa, dan membukany tahun baru dengan berpuasa. Maka Allah menjadikan untuknya sebagai kafarah atau penebus dosa selama 50 tahun”, terdapat dua perawi yang pendusta.

  1. Adz Dzahabi dalam Tartib Al Mawdhu’at (181)  mengatakan bahwa Al Juwaibari dan gurunya –Wahb bin Wahb- yang meriwayatkan hadits ini termasuk pemalsu hadits.
  2. Asy Syaukani dalam Al Fawa-id Al Majmu’ah (96) mengatan bahwa ada dua perowi yang pendusta yang meriwayatkan hadits ini.
  3. Ibnul Jauzi dalam Mawdhu’at (2/566) mengatakan bahwa Al Juwaibari dan Wahb yang meriwayatkan hadits ini adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits

Merayakan tahun baru

Menjadikan awal tahun baru sebagai hari perayaan, hari besar atau hari raya. Kita tahu bahwa yang memiliki adat merayakan tahun baru adalah orang – orang kafir. Merayakan awal tahun baru hijriyah dengan makan – makan dan minum, berkumpul menyalakan lampu lebih dari biasanya, melakukan kenduri, tirakatan dan berbagai kegiatan yang tidak ada tuntunannya, bahkan ada sebagian orang yang merayakannya dengan sesajian yang penuh nuansa kemusyrikan. Ketahuilah bahwa pada periode salafus shaleh tidak terdapat perayaan awal tahun hijriyah. Maka mukmin sejati adalah orang yang meniti jalannya pada salafus shaleh, yang berteladan dengan apa yang ditinggalkan oleh sayyidul mursalin Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam, dan berteladan dengan orang – orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, siddiqin, syuhada dan shalihin.

Membelanjakan harta untuk membiyai acara yang tidak disyariatkan, atau merayakan hari yang tidak di perintahkan untuk dirayakan adalah perbuatan sia – sia. Begitupula memeriahkan hari yang mengandung keutamaan dengan cara yang tidak disyariatkan juga sia – sia. Ibnul Hajj dalam al-Madkhal menyebutkan : “Sebab larisnya adat – adat semacam tadi adalah : Diamnya sebagian ulama, bahkan ada yang berkeyakinan bahwa hal tersebut adalah menghidupkan syari’at Islam”. Innalillahi wainna ilaihi rajiun.

Imam besar Fudhail bin Iyadh berkata : “Ikutilah jalan kebenaran, meskipun sedikit orang yang menitinya dan jauhilah jalan kebinasaan sekalipun banyak orang yang binasa”

Di intisarikan dari : Qiblati edisi 04 / III, Januari 2008 M / Dzulhijjah 1428 H

Comments

  1. Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>