Jelajah Pantai : Pantai Ngrenehan, Ngobaran dan Nguyahan

 

Pantai ngrenehan, ngobaran dan nguyahan adalah pantai di gunung kidul yg paling sering saya dan teman – teman kunjungi, sudah tiga kali kami berkunjung ke pantai pantai tersebut.Berawal dari kegilaan kami tiga tahun yang lalu terhadap pantai pantai di gunung kidul, maka penjelajahan tidak kami hentikan hingga akhirnya bertemu dengan ketiga pantai ini. Sebenarnya pertemuan kami dengan ketiga pantai ini antara ketidak sengajaan dan kesengajaan. Lah!!  Terus di posisi mana tuh? Hehehe.

Session #1

Begini ceritanya, karena belum pernah merasakan camping di pantai, bulan juni 2009 setelah UAS (ujian akhir semester)lalu kami merencakan untuk melakukan camping di daerah pantai. Kami memilih pantai ngrenehan awalnya, kami memilih ngrenehan bukan tanpa sebab, ngrenehan menjadi target kami, karena waktu pulang dari pantai siung kita lewat jalur luar kota wonosari menuju Yogyakarta dan kami menemukan penunjuk arah yang bertuliskan pantai ngrenehan, karena masih asing dengan pantai ngrenehan akhirnya kami search di internet dan taaraaaa, ternyata di ngrenehan ada TPI nya. Selain itu tentunya kami memilih untuk menginap di pantai yg belum pernah kami kunjungi dan belum begitu terkenal  di kalangan masyarakat umum.

Dua tenda dome kami sewa dan di tambah lagi dengan satu tenda dome kecil milik teman, tanpa persiapan layaknya para professional kami berangkat  hari sabtu sore tanggal 13 juni 2009 dengan penuh semangat dan nekat tentunya. hihihihi. Dengan hanya berbekal air mineral botolan, baju, perlengkapan sholat dan tentunya uang, kami pun berangkat . Sampai di daerah wonosari kita beli makanan di rumah makan padang untuk makan malam. Dasaarrr!!! Hehehehe. Karena memang belum pernah ke ngrenehan dan arah kesana tidak termasuk jalur wisata pantai layaknya pantai suing, sundak, baron dan lainnya. Kami hanya mengandalkan penunjuk arah yang ada. Dari arah jogja kami menuju wonosari, sesampainya di traffic light pertigaan daerah bandara kita belok kanan  arah playen. Kami agak bingung waktu sampai di pertigaan  setelah pasar playen, karena memang tidak ada penunjuk arah di sana. Akhirnya kami pun bertanya ke penduduk sekitar dan di suruh ambil kanan kemudian lurus aja ikutin jalan besar. Kami kembali bingung sesampaimya pertigaan pasar paliyan, lagi lagi karena memang tidak ada penunjuk arah. Kali ini kami tidak bertanya tetapi coba coba kita ambil arah kiri, berjalah sekitar 100 meter kami mendapati pertigaan yang ada penunjuk arah ke pantai ngrenehan, kami ambil ke arah kanan. Di tengah perjalanan kami mendapati ternyata di daerah sepelosok itu ada markas TNI AD dan sepertinya juga di gunakan sebagai tempat latihan militer. Perjalanan kami lanjutkan hingga bertemu dengan jalur selatan yang tembusan dari panggang. Sampai di pertigaan kami lurus sesuai penunjuk arah, dan jalannya pun mulai sempit, cukup jauh juga dari jalan besar dengan pintu gerbang. Karena waktu sudah sore maka penjaga pintu gerbang pun sudah tidak ada, dengan kata lain kami masuk gratisss.. Yeaahhhhh..

Mendekati daerah pantai kami dapati pertigaan, karena belum tau kemana arah ngrenehan, kami memilih arah lurus dengan logika kalau ke pantai ya pilih jalan yang mengarah ke selatan. Hehehehe… Dan benar saja tidak lama kemudian deru ombak sudah mulai terdengar, tapi yang kami dapati hanya hamparan laut luas tanpa ada pantainya, karena kami berada di atas tebing karang. Ternyata kami salah arah, ini bukan pantai ngrenehan karena tidak ada kumpulan kapal nelayan seperti informasi yg kami dapat. Tanpa tahu itu pantai apa, kita putuskan untuk beristirahat sejenak sembari menikmati deburan ombak dan angin yang membelai segar sambil foto foto tentunya.

Karena hari semakin mendekati gelap kami putuskan untuk segera menuju pantai ngrenehan dan mendirikan tenda. Kami berbalik arah dan menuju pertigaan yang tadi untuk kemudian memilih ke arah yang lain.  Kali ini kita benar, kita dapati pantai dengan teluk yang begitu tenang, di penuhi perahu nelayan. Yapp, ini baru ngrenehan. Survey kesana kemari, tidak ditemukan tempat yang layak untuk mendirikan tenda, seperti pantai pantai nelayan yang lain bau amis begitu menyengat. Dan emang tidak layak untuk bermalam di situ. Berunding sebentar kami memilih untuk kembali ke pantai yang tadi (yang kemudian kami tahu pantai itu bernama pantai Ngobaran), masuk ke area pantai kami dapati banyak patung – patung seperti tempat peribadatan umat hindu. Semakin masuk, ada beberapa orang untuk menawari parkir, tapi ada segerombolan orang yang menaiki bukit. Karena penasaran, kami tidak jadi parkir tapi mengikuti kemana segerombolan orang itu berjalanan, dan sesampainya di atas bukit terlihatlah pantai yang subhanallah indahnya. Kami turun mengarah ke pantai itu (yang kemudian kita kenal dengan pantai nguyahan). Pantainya masih sepi, bersih dan indah. Bahkan hanya ada dua penduduk yang tinggal di situ itupun dengan rumah gubuk yang reot tanpa listrik.

Karena langit semakin gelap, kami kembali naik ke pantai ngobaran untuk menitipkan sepeda motor. Kemudian kami memilih untuk bermalam di pantai nguyahan, ternyata yang bermalam di nguyahan bukan hanya gerombolan kami tetapi ada gerombolan lain yang lebih siap perlengkapannya. Selepas sholat isya’ kami makan malam bersama, oh begitu nikmatnya masakan padang ini meskipun hanya berlauk tempe. Begitu cepat waktu berlalu, gelap pun sudah menyelimuti pantai nguyahan. Saat itu bertepatan dengan bulan purnama semakin menambah kesyahduan dan kehikmatan bermalam tanpa riuh ramai kegiatan kecuali riuh debur ombak menghantam karang. Bintang bintang begitu indahnya terlihat, membentuk ukiran sungai langit yang berbaris rapi. Malam semakin larut, teman teman yang lain sudah mulai tertidur lelap, tapi saya dan beberapa teman seperti enggan memejamkan mata, seperti enggan melewatkan moment langka seperti ini. Selain itu juga untuk berjaga jaga siapa tau laut pasang naik karena pengaruh bulan purnama. Karena kami mendirikan tenda dekat dengan bibir pantai. Subuh menjelang pagi pun mulai mendatangi, kami pun tidak menyia nyiakan waktu untuk menyusuri pantai nguyahan, menyusuri karang karang, karena kebetulan pagi itu laut sedang surut.

Sekitar pukul 9 kami memutuskan untuk berkemas menuju pantai ngrenehan untuk sarapan pagi. Sesampai di pantai ngrenehan belum begitu ramai karena nelayan belum pada pulang dari melaut, akhirnya kami putuskan untuk menikmati indahnya pantai ngrenehan sembari melihat bapak – bapak nelayan pulang melaut. Sekitar pukul 10 kami kembali ke tempat penjualan ikan, untuk menu makan kita terbagi menjadi dua kelompok nih, 4 orang lebih memilih untuk sarapan dengan lauk rajungan klo ga salah waktu itu harganya 60 per kilo, rajungannya lumayan besar besar. Sedangkan 5 orang lebih memilih untuk sarapan dengan lauk udang, waktu itu kalo ga salah harganya 45 ribu per kilo, tapi karena berlima kami membeli 60 ribu. Setelah proses pembelian ikan selese, kami menuju ke salah satu warung yang ada di situ untuk di masak kan. Rajungan di masak saus tiram, sedangkan untuk udang di masak garing krispi dan asam pedas (di masak ala cabe hijau khas gunung kidul). Kurang lebih 15 menit pesanan kami datang dengan dua bakul nasi lengkap dengan lalapan dan sambal terasi yang menggugah selera. Oh, iya teh panasnya juga istimewa lho, gulanya menggunakan gula batu yang menambah nikmatnya rasa teh. Satu paket bakul nasi plus ubo rampenya di hargai 25 ribu. Setelah kenyang kami putuskan untuk kembali ke Yogyakarta tercinta, kali ini kami tidak lewat jalur waktu berangkat, melainkan melalui jalur selatan yaitu lewat panggang, yang tembus imogiri bantul. Estimasi perjalanan  lewat jalur selatan atau jalur utara waktu yang dibutuhkan hampir sama, dengan kecepatan standar kurang lebih yogya – ngrenehan bisa di tempuh dalam waktu 1,5 – 2 jam.

Session #2

Karena pengalaman makan yang begitu luar biasa itu waktu terima gajian asisten praktikum  tanggal , kali ini kami pun terbagi lagi dalam memilih menu makan. Ada yang berbeda kali ini, ternyata ada yang menjual ikah hiu. Karena penasaran ada teman yang memilih hiu sebagi lauk makan, ada yang memilih ikan, meskipun begitu saya tetap konsisten dengan pilihan favorit saya “udang”, tapi kali ini saya agak kecewa dengan hasil masakan udang  yang saya pesan, karena terpengaruh rayuan sang pedagang, udang yang saya beli tidak saya masak di warung bareng ikan yang  teman – teman beli , tapi di masakkan oleh sang penjual udang.  Jadi saya sarankan untuk teman – teman yang ingin sarapan pagi di ngrenehan ikan atau hasil tangkapan laut yang sobat beli mending di masak di warung aja untuk mendapatkan  cita rasa sempurna masakan khas gunung kidul. Selesai makan kami sholat berjamaah di mushola yang ada di sebelah utara tempat penjualan ikan, mungkin karena kurang perawatan masjidnya jauh dari kata bersih. Tapi beruntung waktu itu hari minggu jadi ada penjaganya yang menyediakan karpet. Setelah selesai beribadah perjalan kita lanjutkan ke ngobaran dan nguyahan. Ada pemandangan berbeda waktu kami sampai di nguyahan. Setahun tlah terlewati nguyahan sudah mulai di kenal, mulai banyak wisatawan yang berdatangan, bahkan ada rombongan yang melakukan kegiatan semacam outbond di situ. Dulu nguyahan yang sepi tanpa listrik, kini mulai ada warungnya. Dirasa cukup  untuk melepaskan lelah dengan menikmati belaian sejuknya angin dan gemuruhnya ombak, sekitar pukul dua siang kami memutuskan untuk pulang.

Session #3

Belum bosan kami untuk melakukan ritual sarapan di Ngrenehan (aneh aneh aja nih rombongan uinsukasuka, mau sarapan aja kok ya jauh – jauh ). Terakhir kemaren tanggal 5 maret 2011 kami berkunjung kesana untuk sarapan tapi kali ini gratisan teman acara syukuran. (Lumayan gratisssss :D ). Karena ini gratisan ya agak gimana gitu klo mau pilih pilih lauknya, sebenarnya kami sudah di bebaskan untuk memilih ikan sama yang empunya hajad . dan saya pun sudah bersemangat untuk memilih “udang” lagi untuk mengobati kekecewaanku yang lalu. Namun sayang, kata sang penjual tangkapan lagi sepi jadi ikan yang dijual pun juga sedikit, yaaahhhhhhh (penonton kecewa). Mungkin karena tangkapan sedang sepi, hanya beberapa warung saja yang buka, padahal saya perhatikan pengunujung yang datang lebih banyak tiga kali lipat waktu kami pertama datang ke ngrenehan. Hasilnya kami makan dengan lauk ikan di masak asam pedas dan bakar. Nasi yang masih hangat ditemani sambal terasi yang pedas serta sambal kecap dengan irisan cabe di dalamnya mebuat lidah kami bergoyang. Bahkan setengah bakul nasi pun kami pesan lagi. Selesai makan kita mampir dulu ke mushola untuk sholat dhuhur, tidak berbeda dengan dengan sebelumya mushola masih saja kurang terawat. Setelah selesai kami ngobrol dengan bapak yang biasa jaga mushola, ternyata jadwal beliau emang akhir pekan bergiliran dengan warga lainnya untuk menjaga lingkungan ngrenehan karena memang daerah situ tidak digunakan sebagai tempat tinggal. Ngobrol punya ngobrol kami menanyakan keberadaan pantai mbithing, Kata bapak tersebut “cuma pantai untuk para pemancing mas, ga ada pasirnya” setelah ditunjukan arah dan di deskripsikan mengenai keadaan pantai tersebut tidak menyurutkan rasa penasaran kami untuk mengunjunginya.  Pantai ini terletak di antara pantai ngrenehan dan ngobaran, dan emang bener hanya batu karang dan batu yang sebenarnya malah menjadi daya tarik, entah nama bebatuannya apaan? Tapi yang jelas tidak selayaknya bebatuan itu ada di situ, batu bulat lonjong dan mulus mulus.

Setelah selesai menikmati pantai mbithing kami lanjutkan ke nguyahan untuk sekedar menengok keadaan pantai itu sekarang. Dan… taarraaaaa, pantainya sekarang benar benar ramai. Bangunan di depan pintu gerbang ngobaran yang dulunya mangkrak sekarang aktif kembali menjadi penginapan, begitupun dengan bangunan bangunan di kompleks parkir pantai ngobaran. Banyak mobil dan sepeda motor yang parkir, namun begitu karena sudah terbiasa kami membawa motor masuk ke area pantai nguyahan. Dan .. taaarrraaaa juga untuk pantai nguyahan, yang dulunya hanya ada dua bangunan kini sudah bertambah lagi bangunan dan bahkan ada yang di gunakan untuk menginap. Benar benar sudah mulai di kenal pantai yang dulunya masih sunyi sepi ,layaknya pantai milik pribadi. Kini harus berebut tempat dengan wisatawan lain untuk mencari spot spot untuk berfoto ria.hahahaha. Ya, semoga dengan bertambahnya wisatawan yang berkunjung tidak membuat pantai ini kehilangan kecantikannya karena ulah wisatawan yang buang sampah sembarangan.

Comments

  1. By wahyu

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>