Ketahanan Pangan (Andai Saya Anggota DPD RI)

Iseng iseng ikut lomba DPD RI – Andai Saya Anggota DPD RI tapi ternyata bualan saya belum realistis, mau hapus kok sayang. Ya dah deh, met baca aja ya

Oke, to the point aja ya. Jika aku menjadi anggota DPD RI apa yang akan saya lakukan, untuk pribadi saya sendiri, tentunya sebagai anggota DPD RI tidak membuat saya lupa diri. Saya akan tetap membumi, sederhana, bekerja penuh dedikasi berjuang untuk kepentingan bangsa dan Negara. Melayani rakyat (konstituen) sebaik mungkin,berpihak kepada rakyat dan tidak mendahulukan kepentingan segelintir orang bahkan kepentingan asing, dan insya Allah bisa meniru apa yang ditauladankan Rasulullah Muhammad SAW dalam menjadi pemimpin yang amanah,cerdas,jujur dan tabligh. Amiinnn

Kemudian apa yang akan saya lakukan untuk kepentingan  rakyat (konstituen), usaha usaha legislasi seperti apa yang akan saya perjuangkan tentunya saya sesuaikan dengan hal yang paling prioritas di daerah yang saya wakili pada khususnya dan kepentingan bangsa dan Negara pada umumnya. Maka usaha legislasi yang saya perjuangkan adalah  pada sektor pertanian.

1.Perlindungan Pangan Dalam Negeri

Melakukan perlindungan terhadap petani kita dari gempuran pangan import, tentunya juga harus dibarengi dengan penggiatan kepada petani kita untuk lebih meningkatkan produksi pangan. Antara lain dengan akses terhadap informasi dan teknologi yang lebih baik, Infrastruktur produksi (air, listrik, jalan, telekomunikasi) yang memadai, Struktur pasar yang adil dan tidak eksploitatif akibat posisi rebut-tawar (bargaining position) yang sangat lemah. Selama ini para petani seakan hilang semangat atau tidak bangga lagi terhadap profesi mereka, itu bukan tanpa sebab. Banyak petani kita yang sampai saat ini belum mendapatkan imbalan yang pantas atas jerih payah mereka, meyebabkan mereka seakan putus asa. Kemudian  bagaimana budaya kapitalis, materialistis, konsumeristis, liberalis dan lainnya yang bersumber dari bangsa lain melibas eksistensi jatidiri bangsa. Sehingga anak – anak petani lebih memilih menjadi kacung industry daripada menjadi juragan atas lahan yang dipunyai atau mewarisi profesi petani dari orang tuanya. Selain itu tidak bisa dipungkiri bahwa harga beras secara umum yang dikendalikan oleh Pemerintah masih tidak sepadan dengan jerih payah yang sudah dilakukan oleh para petani, memang cukup dilematis juga bila harga beras/gabah tidak dikendalikan oleh Pemerintah ada kemungkinan serbuan para kapitalis di bidang agribisnis justru akan menyingkirkan para petani dan menguasai produksi dan distribusi sektor pangan, yang lebih dikhawatirkan adalah masuknya kendali dari luar melalui penanaman modal asing.

2. Perlindungan Intelektualitas Petani

Mengusulkan perundangan yang melindungi intelektualitas petani dalam berinovasi, baik cara bertanam, teknik menanam bahkan sampai inovasi terhadap bibit, sehingga tiap petani mempunyai payung hukum dalam meningkatkan produksi panen dengan segala inovasi yang mereka ciptakan, sehingga tidak akan ada perusahaan yang bisa menuntut hanya gara – gara merasa ide mereka di pakai. Sehingga kasus seperti ini tidak terjadi lagi.

3. Peningkatan Kualitas Pangan

Pengertian ketahanan pangan bukan hanya sebatas pemenuhan / terpenuhinya pangan bagi tiap rumah tangga, tapi terpenuhinya gizi atas setiap pangan yang didapatkan. Maka harus diusulkan bagaimana membuat sebuah sistem pertanian yang mampu menghasilkan pangan yang bergizi tinggi, hal itu bisa di tempuh dan saat ini sudah menjadi salah satu tren hidup sehat yaitu hasil pertanian organik. Dengan menggalakkan pertanian organik tidak hanya sebatas mendapat kualitas pangan yang tinggi tapi bagaimana kita bisa menciptakan sebuah rantai kehidupanyang bisa menjadi pendapatan tambahan bagi para petani yaitu melalui pupuk organik yang di dapatkan dari kotoran ternak. Ternak bisa di kasih makan dari hasil daun sisa panen, kotoranny bisa di manfaatkan untuk pupuk, dengan begitu petani tidak perlu lagi mengemis kepada pemerintah mengharap subsidi atau bahkan tergantung kepada perusahaan – perusahaan pupuk kimia. Selain itu pupuk organik juga mampu mengembalikan kesuburan tanah yang selama ini kian habis karena teracuni oleh pupuk kimia

4.  Dukungan Modal

Masalah utama petani adalah mengenai permodalan,mungkin pemerintah telah menggelontorkan dana untuk melakukan pupuk bersubsidi dan bibit gratis, namun mereka tidak punya modal untuk membiyai proses pengerjaan. Berdasarkan data Hipmi Research Center mengungkapkan, porsi dan ekspansi kredit pertanian sangat kurang dibandingkan dengan industi lainnya. Porsi kredit pertanian hanya sebesar lima persen dari total kredit industri perbankan. Sekarang, kalau kita ke bank sebagai pengusaha yang bergerak dibidang pertanian kemungkinan paling besar adalah ditolak. Itulah ironi yang terjadi di negeri ini dimana seharusnya bank – bank sumber dananya dari tabungan para petani masyarakat desa yang seharusnya bisa di peruntukkan untuk membantu permodalan mereka malah di berikan kepada para pengembang dan kontraktor untuk menanam beton, lebih mendukung kepada para pengusaha untuk mendirikan pabrik pabrik mereka yang makin hari kian mempersempit lahan pertanian, daripada member dukungan terhadap petani dalam mewujudkan ketahanan pangan.

Saat ini para petani membutuhkan uluran tangan yang tidak bersifat sementara dan akhirnya justru melemahkan kekuatan mereka sendiri seperti Program pupuk bersubsidi, bantuan benih gratis dan lain sebagainya yang menyelesaikan masalah hanya untuk beberapa saat saja dan menimbulkan ketergantungan petani terhadap program seperti ini. Sesungguhnya solusi yang paling tepat untuk mengembalikan harkat martabat petani dan meningkatkan kesejahteraannya adalah melalui penerapan sistem pertanian yang berkelanjutan secara terintegrasi (integrated sustainable farming system) dengan pola pertanian organik sebagai intinya.

Comments

  1. Reply

  2. By joko "jekek"

    Reply

  3. Reply

  4. By agus eko

    Reply

Leave a Reply to Don Komo Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>