Sandiwara Langit, “Bohong kalo tidak menangis”

Sebelum tidur, corat coret blog dulu ahhhh…

Hari ini aku melakukan perjalanan dari solo – menuju bandung, ambil jadwal kereta pagi dengan niat hati agar bisa melihat pemandangan di sepanjang perjalanan yang selama ini tidak pernah bisa aku nikmati karena sering kali perjalanan aku lakukan malam hari, yang ada hanya kegelapan. Namun ternyata aku lebih tertarik dengan buku yang aku beli senin kemarin di sarana hidayah (Yogyakarta) dan tak biasanya saya membaca buku sekali habis dalam sehari. Sebenarnya tidak ada niat untuk membeli buku ini, melainkan berniat untuk beli buku karangan ustad Armen, yang berjudul “Untukmu yang berjiwa hanif” lah yang aku cari. Namun seperti biasa ketika aku mengunjungi toko buku sarana hidayah tak lupa menyempatkan untuk bongkar bongkar koleksi buku yang ada di kotak buku “sortir” (sortir: biasanya ada halaman yg tidak lengkap, halaman terbalik atu halam terpotong) dengan harga 5000 an. Saat asyik bongkar bongkar, akhirnya aku menemukan buku ini (buku lama sih sebenarnya), ya, Sandiwara Langit, buku karangan Ust. Abu Umar Basyier, yang namanya sudah tak asing lagi bagiku meskipun aku belum pernah bertatap muka langsung dengan beliau, beliau adalah salah penulis artikel di majalah el-fata dan juga majalah nikah sakinah, klo tidak salah beliau juga salah satu pengajar di Pondok pesantren Al-Ukhuwah Sukoharjo, Jawa Tengah, Indonesia, rekaman – rekaman dakwah beliau juga dengan mudah kita dapatkan di internet.

 

Saat membuka daftar isi, dan mendapati bab 1 dari buku ini yang berjudul “Pria Muda yang Ingin Menikah”, ahhhaaaa.. sepertinya ini cocok sekali denganku sebagai seorang pemuda lajang, imut lagi lucu ini.. hehehehehe yang juga sedang dalam pencarian untuk mendapatkan seorang bidadari pendamping hati. Tak biasanya saya tertarik, karya sastra ala novel meskipun itu bertemakan cinta yang biasanya membuat banyak orang tertarik, karena memang saya tidak suka ceritak fiksi (kisah dusta aku lebih senang menyebutnya…hehehehe) buku ini berbeda, buku ini berbasis pada kisah nyata, bukan karya rekaan dengan kisah yang penuh riasan dan polesan bahkan bualan yang mengada ada,inilah kisah nyata kehidupan suami istri yang saya berharap banyak hikmah darinya.

 

Saya tidak pandai dalam bercerita, nanti kalau saya paksakan menceritakan isi buku ini takutnya menghilangkan kekuatan cerita dari buku ini..hehehehe (padahal cuma males cerita). Intinya gini, (halah, cerita juga).. Rizqaan dan Halimah (dua tokoh utama dalam buku ini), mereka ingin menikah, (usia muda), mereka berasal dari latar belakang berbeda, Rizqaan dari keluar miskin, dan halimah dari keluarga yang mampu, saat untuk memutuskan menikah mereka baru saja lulus SMA, namun dengan tekad yang kuat Rizqaan akhirnya melamar halimah, namun ada syarat yang aneh yang di ajukan oleh Ayah halimah. Rizqaan boleh menikahi anaknya dengan syarat jika dalam 10  tahun tidak bisa membuat anaknya hidup bahagia dan bekecukupan maka dia harus menceraikan istrinya, dan itu di ucapkan waktu akad nikah. Ini awal dari kisah ini, begitu seterusnya kehidupan bergulir, hingga waktu itu tiba, Rizqaan yang sudah sempat mencapai kejayaan dalam usahanya, akhirnya pupus sudah harapannya untuk tetap menjadi suami dari halimah, karena musibah kebakaran menimpa dirinya dan menjadikan dia seperti waktu awal menikahi halimah yang tanpa punya apa – apa. Baca sendiri deh ya, di bilangin aku ga pandai cerita…

 

Banyak Ibroh yang bisa di ambil dari kisah ini, bagaimana suami -  istri menjalani hidupnya benar – benar berdasar kan Aturan Allah Subhanahuwata’ala, mereka hidup benar – benar berlandaskan al – qur’an dan sunnah, dalam menghadapi permasalahan maupun kesenangan hidup yang mereka raih. Di buku ini di cantumkan juga dalil – dalil yang jika kita baca keseluruhannya (baik bahasa arab maupun terjemahannya akan membuat kita merinding). Sungguh luar biasa kisah ini, ada di beberapa bab yang membuat saya menitikkan air mata. Bahkan saat – saat dimana Rizqaan harus dengan terpaksa menceraikan istri yang di cintainya (disaat musibah sedang melanda mereka, disaat Rizqaan sedang bersedih karena kematian ayahnya dan ibunya yang sedang tekulai lemah karena peristiwa kebakaran yang menimpa mereka) karena persyaratan yang pernah di sepakati, perceraian yang bukan karena pertengkaran atau perselisihan di antara mereka. Mereka dengan ikhlas melakukan itu semata – mata karena kepatuhan mereka kepada Allah,”Hai orang – orang beriman, penuhilah akad – akad itu” (Al-Maidah 1),jika bukan karena mereka paham agama, maka mereka pasti enggan untuk melakukan hal (yang mungkin orang lain anggap itu sesuatu yang gila).

 

Halimah adalah istri yang sholihah, kepatuhan dan ketaatannya kepada suaminya semata mata di tujukan hanya untuk mendapatkan surganya Allah,”Wanita mana pun yang meninggal dunia sementaranya suaminya ridha kepadanya, ia pasti masuk surga“, tentunya bukan ridha dari sembarang suami, tentunya ridha dari suami yang sholeh.

 

Puncak menangis saya, saat mulai membaca hal 201 (ini melebihi saat menonton film korea yang berkisah tentang alzheimer) *lebaayyyyyy (Tapi beneran, kalo baca sendiri pasti menangis walau hanya setetes, kalau ngga, berarti bohong.. *duhh yakinn bener)

Di saat mereka baru saja di persatukan kembali, Halimah harus pergi meninggalkan suaminya untuk bertemu dengan kekasih sejati, yaitu Allah Subhanahuwata’ala. dia mengidap penyakit Leukimia, yang baru akhir – akhir ini dia ketahui.

 

ini percakapan yang membuat saya trenyuh, tp klo hanya sepenggal ini yang di baca, tanpa mengetahui betapa hebatnya perjalanan mereka, maka bisa jadi feel nya ga dapat… hehehehe

Sore, menjelang Maghgrib, Halimah terbangun. Disampingnya duduk Rizqaan. Sementara di depannya, bapak dan ibunya duduk di atas dua buah kursi plastik. Mereka semua cemas menantikan kesadarannya. Seorang dokter perempuan -yang sengaja diundang ke rumah-, mendekatinya. Memeriksa nadinya, lalu memberikan suntikan dibagian lengannya.

 

“A…abuya…” Halimah berkata lirih.

“Aku di sini adinda.”

“Alhamdulillah. Apakah sudah tina waktu Maghrib?” Tanya Halimah

“Belum. Masih kira – kira sepuluh menit lagi.”

“Abuya…” Sapa Halimah pelan

“Ada apa Adinda.”

“Apakah abuya masih mencintaiku?”

“Tentu Adinda. Aku selalau mencintaimu karena Allah.”

“Aku juga mencintaimu karena Allah, abuya.” Halimah diam sejenak.  Lalu bertanya lirih,

“Apakah engkau akan tetap bersabar atas segala yang menimpa kita, abuya?”

“Engkau akan dapati diriku termasuk orang – orang yang bersabar, adinda…”

“Abuya. Jawablah pertanyaanku.”

“Ya. Apa adinda?”

“Apakah engkau meridhaiku sebagai istri?”

“Sudah tentu adinda. Suami mana pun akan meridhai istri seshalih dirimu. Setaat dirimu. Sepatuh dirimu. Kamu bukanlah wanita yang tak memiliki kekurangan atau kesalahan. Tapi dengan keshalihanmu, ketaatanmu, kepatuhanmu, aku senantiasa ridha terhadapmu…”

“Alhamdulllahiladzi bini’mathi tatimmus shaalihaat. Aku ingin termasuk di antara wanita yang di sebutkan hadits.”

“Bagaimana itu adinda?”

“Wanita mana pun yang meninggal dunia sementara suaminya ridha kepadanya, ia pasti masuk Surga”

Halimah mengucapkan hadits itu sedemikian fasihnya. Arab, berikut terjemahannya.

“Semua wanita shalihah, mengidamkan itu, adinda. Dengan izin Allah, adinda akan termasuk diantaranya.”

“Allahumma amien. Abuya, sekarang aku puas. Apa pun yang terjadi atas diriku, kini aku sudah kembali menjadi istrimu. Aku telah berdoa setiap malam, agar bisa hidup berdampingan dengan suami yang shalih. Sehingga kalaupun mati, aku akan mati dengan keridhaan Allah, kemudian dengan keridhaan suamiku…”

 

Halimah berhenti sejenak.

“Abuya. Betapa indahnya bila Allah betul – betul mencintai kita. Aku ingin dengan Cinta-Nya, kita berdua menuai bahagia seutuhnya. Kebahagiaan yang bukan cuma di duni, tapi juga di akhirat.”

Halimah menghela napasnya yang terasa begitu berat.

“Abuya. Bila aku sudah tiada, berjanjilah untuk senantiasa berjalan di atas ajaran Allah. Didiklah anak kita, dan berbaktilah kepada orangtua…”

“jangan berkata begitu adinda…” Rizqaan menyela.

Halimah memberi isyarat dengan tangannya, agar Rizqaan tak bertanya apa – apa/

“Berjanjilah abuya…”

“Aku berjanji adinda. Tanpa berjanji pun, ketaatan kepada Allah adalah janji seluruh manusia saat mereka berada dalam perut ibu mereka…” ujar Rizqaan

“Alhamdulillah…”

“Abuya….tabir itu mulai terbuka… Aku mencintaimu, abuya. Abuya tak perlu meragukan cintaku. Tapi aku lebih merindukan Allah. Bila ini kesempatanku bersua dengan-Nya. Aku tak akan menyia – nyiakannya sedikit pun….”

“adinda…”

“Laaaa ilaaaha illallah….muhammadurrasulullah….”

“Adinda…”

“Laaaa ilaaaha illallah….muhammadurrasulullah….”

“Laaaa ilaaaha illallah….muhammadurrasulullah….”

“Laaaa ilaaaha illallah….muhammadurrasulullah….”

 

Suara tahlil itu mengalun lembut dan syahdu dari mulut Halimah. Terus menerus. Semakin lama, semakin lemah. Namun semakin syahdu. Sampai akhirnya suara terakhir terdengar, masih sama, “Laaaa ilaaaha illallah….muhammadurrasulullah….”

Usai berakhirnya suara itu, napas Halimah terhenti. Di tengah keheningan kamar di rumah mereka, yang masih tercium bau catnya, karena belum lama dibangun, Halimah menghembuskan nafas terkahir. Sang Ibu menjerit. Sang Bapak menagis. Rizqaan juga tak kuasa menahan air matanya yang tiba – tiba mengalir deras. Pernikahannya dengan Halimah merupakan masa kembalinya kebahagiaannya yang beberapa saat nyaris lenyap, kini nyaris terenggut kembali. Tapi kepergian Halimah dengan kondisi yang menyemburatkan aurat Surga, membuat hatinya terasa nyaman. Ia bersedih, tapi juga berbangga dengan Istrinya. Kesedihannya pupus perlahan karena rasa bangga bercampur rasa iri yang menyejukkan jiwa. Betapa berbahagianya Halimah.

 

Tak lama kemudian, adzan Maghrib terdengar. Mereka mendengarkannya dengan khusyu. Saat lantunan adzan berhenti, bapak Halimah mendekati Rizqaan. Ia menatap menantu yang sekian lama ia kecewakan. Sekian lama ia perangkap dalam kesukaran dan penderitaan. Pria yang – dengan izin Allah- telah mengubah wujud putrinya, sehingga menjelma menjadi wanita shalihan begitu setia pada kebenaran. Ia menatap pemuda itu. Air matanya menetes tak terbendung. Penyesalan membuncah hingga nyaris membakar otak. Ia nyaris bisu dalam suasana hati yang kuyup penyesalan.

 

“Duhai, seandainya aku masih memiliki putri lain. Pasti aku akan menikahkannya denganmu, ananda.” Ujar bapak Halimah, kepada Rizqaan.

 

“Halimah, sudah cukup bagiku pak. Nikahkanlah aku kembali dengan putrimu itu pak?”

“Aku sudah melakukannya dua kali ananda..”

“Cobalah untuk ketiga kalinya pak…” ujar Rizqaan lirih.

 

“Itu bukan lagi hakku ananda. Biarlah Allah yang akan menikahkanmu dengannya di Surga kelah. Relakanlah kepergiannya saat ini. Semua kita toh pasti akan mati juga. Gapailah Surga dengan amal ibadahmu. Dengan ketulusan hatimu. Hanya dengan itu Allah akan berkenan mempertemukan dirimu kembali dengan-nya….”

Allahuakbar…

 

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba – hamba-Ku dan masuklah ke dalam Jannah-Ku” (Al-Fajr 27-30)

 

Segala puji bagi Allah. Dengan segala limpahan karunia-Nya, kemaslahatan apa pun dapat telaksanan dengan sempurna.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>