Akhirnya punya passport juga

Emang mau pergi kemana mas ?

Jadi pergi keluar negeri nya?

Mau untuk apa buat passport?

Pertanyaan – pertanyaan itu selalu muncul, ketika saya tanya – tanya soal bagaimana prosedur, berapa lama dan biaya yang harus dikeluarkan untuk membuat passport. Bahkan ketika saya minta surat pengantar dari Kantor, pun tak luput dari pertanyaan tersebut.

Hmmm, mau kemana ya????

Dalam waktu dekat belum ada rencana mau keluar dari negeri tercinta ini, but someday benda ini (passport) harus kena cap TPI (Tempat Pemeriksaan Imigrasi). Enggak sih, sebenarnya saya bikin passport ini biar tidak ada lagi kekecewaan yang terulang. Niat bikin passport sebenarnya sudah ada sejak lulus dari kuliah, tapi belum ada uang aja waktu itu, hasil kerja jadi assisten dan trainner lebih pilih saya gunain untuk modal usaha waktu itu. Kenapa waktu itu sudah pengen bikin passport, karena teringat dengan salah satu quote dari bong chandra yang sebenarnya itu perumpaan aja sih untuk seseorang yang ingin mencapai kesuksesan maka usahakan kesuksesan itu meskipun harus dimulai dengan yang kecil dulu, kurang lebih begini bunyinya, “Jika punya keinginan untu bisa keluar negeri, maka usahakanlah, seenggaknya dengan membuat passport terlebih dahulu”.

Nah, gara gara quote itu, jadi pengen bikin passport… (bener bener letter leg dalam mengaplikasikan kata – kata)

Tapi bener, gara – gara tidak segera dalam membuat passport, akhirnya apa yang saya khawatirkan pun terjadi.

Sempat saya chat ma temen kuliah yang lanjut s2 di korea selatan, dulu lewat agen mana bikin passport, berapa biaya dan berapa lama? Maklum dikarenakan saya harus merantau jauh dari rumah, sedang syarat – syarat untuk membuat passport itu adanya di rumah, seperti Kartu Keluarga dan Akta Lahir, karena ketidaklengakpan syarat itulah yang membuat hal ini menjadi tertunda tunda. Waktu itu, juga ditanyain ma temenku, emang mau untuk apa passportnya, sempat saya jawab, “untuk jaga – jaga aja, kalau – kalau ada tugas dari kantor untuk ke Batam, kan bisa mampir ke singapura dulu… hehehehehe”. Padahal waktu itu belum ada tanda – tanda sedikitpun dari kantor kalau saya bakal dikirim ke Batam.

Dan sampailah, apa yang saya katakan itu terwujud… Ke Batam nya maksudnya, klo ke Singapura nya sih enggak :(

Akhir bulan Januari kemarin, bener kejadian, saya dapat tugas ke batam untuk menyelesaikan pekerjaan proyek yang belum terselesaikan oleh implementor yang waktu itu di suruh kesana. Karena untuk proyek ini, saya kebagian Indonesia Timur. Berangkatlah saya ke Batam dengan satu teman, pemasangan perangkat yang notabene satu tempat, akhirnya jadi 4 tempat, yang 3 di antaranya adalah pelabuhan pelabuhan besar di Batam.

Empat hari saya di Batam, dan tiba saatnya hari kepulangan, dan di waktu itulah kekecewaanku semakin menjadi, sebelum pulang, sempat ngobrol sama kepala TPI (Tempat Pengecekan Imigrasi) Pelabuhan Harbour Bay, “Udah selesai ini berarti mas? Terus mau pulang kapan?”, saya jawab, “Penerbangan nanti sore pak”, “Kenapa buru buru, nggak besok pagi aja, hari ini kan udah ga ada kerjaan, kan bisa main main ke Singapura dulu”…. jedeerrr, perkataan yang dulu sempat saya sampaikan ke temanku, akhirnya diungkit juga ma bapak satu ini. Sungguh terlalu… apalagi perjalanan Batam – Singapura terhitung cukup murah, 300 ribu untuk tiket pulang pergi sudah termasuk dengan pajak, saya membayangkan jika saja waktu itu punya passport, seenggaknya bisa menggelandang semalam di Singapura. Tapiii… ah sudahlah… Salah siapa juga tidak sesegara mungkin untuk membuat passport. Memang, keberuntungan itu benar   – benar bisa kita rasakan ketika kita mengusahakannya, ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan.

Dan saya tidak ingin kekecewaan itu terulang kembali, akhirnya kemarin hari senin saya putuskan untuk membuat passport, tentunya menunggu syarat – syarta yang dikirim dari rumah. Berikut adalah pengalaman saya dalam membuat passport, dalam kasus ini saya mengurus passport nya di Kantor Imigrasi Kelas I Bandung :

Syarat untuk membuat passport baru bagi WNI :

  1. Kartu tanda penduduk yang sah dan masih berlaku;
  2. Kartu keluarga;
  3. Akta kelahiran, akta perkawinan atau buku nikah, ijazah, atau surat baptis;
  4. Surat izin dari instansi yang berwenang bagi yang akan bekerja di luar negeri;
  5. Surat pewarganegaraan Indonesia bagi Orang Asing yang memperoleh kewarganegaraan Indonesia melalui pewarganegaraan atau penyampaian pernyataan untuk memilih kewarganegaraan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
  6. Surat penetapan ganti nama dari pejabat yang berwenang bagi yang telah mengganti nama.

Bisa di lihat di website imigrasi : http://www.imigrasi.go.id/index.php/layanan-publik/paspor-biasa#persyaratan

Oke, jadi ceritanya setelah persyaratan lengkap ada di tangan. Proses yang saya lakukan adalah daftar secara online, secara kalo daftar konvensional bakal ketahuan antri nya akan segimana, selama pengamatan Kantor Imigrasi yang ada di Jawa ini ga pernah sepi. Dan katanya yang daftar online akan mendapatkan pelayanan yang berbeda dari yang konvensional.

1. Daftar Online

*Sebelumnya  siapkan file scan syarat – syarat yang akan di upload, seperti KK, Akta Lahir dan KTP

Daftar online bisa dilakukan di website imigrasi : http://ipass.imigrasi.go.id:8080/xpasinet/faces/InetMenu.jsp

Pilih menu : Pra Permohonan Personal

Kemudian isikan form yang ada di situ, kemudian lanjut dengan upload file scan, dan kemudian pilih jadwal kapan kita bias pergi ke Kantor Imigrasi.

*Inilah yang saya suka lewat daftar online, kita bias menentukan jadwal kapan kita akan ke Kanim nya, untuk yang sudah bekerja, atau punya jadwal kegiatan sehari hari, pemilihan jadwal ini sangat bermanfaat.

Setelah semua proses pendaftarn selesai, maka kita akan mendapatkan berkas bukti pendaftaran secara online, yang harus kita print. Bukti itu yang nantinya akan kita tunjukkan ke petugas imigrasi.

2. Verifikasi Berkas

Saya memilih hari senin tanggal 6 mei kemarin untuk dating ke kanim, dengan membawa persyaratan. (Saya sarankan semua persyaratan di fotokopi)

Di jadwal saya pendaftaran akan di layani dari pukul 08.00 – 11.00, saya berangkat sekitar jam 8.30. Sesampai nya di kanim, kurang lebih pukul 08.43, saya langsung menuju ke loket antrian, bener jg nih untuk yang daftar online mendapat loket yang terpisah dari yang lain, meskipun masih cukup pagi… yeee, 1/2  9 mah udah siang…. Saya dapat no. antrian no 43. Saya pikir karena sudah daftar online bisa langsung aja, ternyata saya di suruh untuk mengisi formulir lagi, ada 2 lembar formulir yang harus saya isi, yang pertama adalah lembar surat perrnyataan ber materai, yang kedua adalah form permohonan, yang isinya sama percissss seperti yang saya isikan lewat  online (sempet dongkol juga sih, terus apa gunanya daftar online kalau sampe kanim harus isi isi formulir beginian lagi, klo yang surat pernyataan masih okelah). Setelah formulir terisi semua, saat menunggu antrian, nunggu kurang lebih setengah jam akhirnya tiba juga di no 43, di loket ini, berkas persyaratan kita akan di cek, saya pikir berkas yang asli bakal di cek, tetapi ternyata cuma foto kopinya doang, dan dikumpulkan (Klo Cuma fotokopi doang , sebenarnya saya ga perlu dikirim berkas yang asli dong klo gini… hadehhhh). Tapi mungkin beda kanim beda proses kali ya, tapi gpp, tetap dibawa aja berkas yang asli, dari pada entar ditanyain dang a bias nunjukin malah jadi repot. Oke, sekitar pukul 10.00 verifikasi berkas selesai dan nyatakan diterima, dikasihlah tanda terima. Dan saya disuruh datang lagi ke kanim sekitar pukul 14.00 untuk melakukan pembayaran. Welehh, ternyata jedanya begitu lama… karena ga tau mau ngapain, daripada clingak clinguk ga ada kerjaan, saya putuskan untuk balik dulu ke kantor.

3. Pembayaran

Belajar pengalaman pagi tadi, saya berangkat ke kanim pukul 13.00, sampai disana, ambil antrian untuk loket pembayaran, ehhh, dapat  no 50 an… hadeehhhh… nunggu lumayan lama, sekitar 1 jam akhirnya proses pembayaran selesai tinggal nunggu sesi pemotretan. Oh iya, untuk biaya bikin passport baru yang 48hal di kenakan tariff Rp 255 ribu.

4. Pemotretan

Tibalah sesi pemotretan, dengan sedikit gaya, pemotretan pun selesai dengan cepat, scan sidik jari yang 10 ini… jari tangan lho ya, bukan jari kaki. Selese deh… tinggal ke tahap wawancara.

5. Wawancara

Di tahap wawancara ini, ga usah tegang, Cuma diajak ngobrol aja sama petugas imigrasi nya, biasanya sih ditanyain mau kemana kok bikin passport, waktu itu akau jawab, ini bakal ada project dari amerika, dan harus ada nanti dari team kita yang akan berangkat. Eh, malah di do’a in ma petugasnya semoga project nya goal. Maka setelah ngobrol – ngobrol disetujuilah SPRI (Surat Perjalanan Republik Indonesia). Saya dikasih tanda terima pengambilan passport, normalnya passport akan selesai 3 hari dari proses pemotretan. Kebetulah kemarin hari kamis tanggal 9 mei hari libur, maka disuruh ambil hari jum’at.

Oh, iya.. rasa penasaran saya kenapa harus mengisi form lagi secara manual terjawab waktu proses wawancara, waktu petugas menanyakan ketika daftar lewat online lancar ga. Saya mencoba mengambil hipotesa, mungkin bisa jadi masih ada permasalahan dengan sistem daftar online ini, bisa aja data yang kita submit itu tidak terkirim ke data center imigrasi sana, sehingga untuk jaga – jaga ketika verifikasi data dan data tidak ditemukan, maka petugas bisa dengan mudah memasukkan lagi data – data kita. Kan repot juga, kalo ternyata di cek, data kita di data center sana tidak ditemukan, kemudian waktu pembayaran, pendaftaran kita ditolak dan disuruh daftar ulang lagi dari awal hanya gara – gara data yang kita kirim lewat pendaftaran online tidak terkirim dengan baik. Akan kriiikkk sekali rasanya, harus ngantri lagi, izin kerja lagi… So, ngisi formulir manual juga ga butuh waktu yang lama kok, entah tujuannya untuk apa, tapi seharusnya ketika semua sudah tersistemisasi dengan baik, seharusnya ngisi – ngisi kayak gitu sudah tidak ada lagi, akan sia – sia hanya untuk mengulang proses yang sama, yang sebenarnya sudah digantikan melalui daring.

6. Pengambilan

Hari jum’at tanggal 10 Mei, saatnya pengambilan passport, kali ini saya berangkat lebih pagi, pukul 07.00 saya sudah berangkat, dan sampai disana saya dihadapkan lagi dengan kenyataan mendapat no antrian sudah diatas 100 #tepokjidat. Yang ini bener – bener lumayan lama, sebenarnya bias wasting time dengan mainan gadget sih, tapi saya bukan tipe seperti itu, saya biasanya lebih memilih mengamati sekitar, siapa tahu ada bidadari surge yang lewat terus kecantol… hahahahaha… Keputusan saya untuk tidak memilih membuang waktu dengan bermain gadget membuahkan hasil, akhirnya saya dapat teman ngobrol, meskipun bukan bidadari sih, karena kenalan baru saya ini seorang cowok, ya gimana bias dapat ngobrol dengan cewek, karena selama ini ga tahu kenapa Allah selalu ngasih teman duduk selalu cowok, pun ketika naik kereta ga pernah sekalipun dapat teman duduk cewek, eh sekalinya dapat, tuh tiket udah saya pindah tangankan ke teman, karena saya ga jadi pulang. Ya… teman saya lah yang nemu untungya.. hihihihi (Kok Malah  Curhat). Tak disangka – sangka kenalan baru saya ini juga dari dunia yang sama, yaitu dunia IT juga plus dari daerah yang tetanggaan, karena dia salinya orang boyolali, tapi udah lama hidup di Cimahi. Seorang programmer ruby, tapi udah senior, sudah lama jadi programmer freelance, sering nerima kerjaan dari luar negeri, dan siapa sangka dia adalah founder dari  http://recehan.com/  .Kami ngobrol banyak, ada salah satu tema obrolan kita yang cukup menarik, yaitu soal jodoh, kebetulan dia sudah beristri dan punya anak dua.

Mas S : “Sudah punya istri?”

Saya : “Belum Mas.”

Mas S : “Loh Kok belum?”

Saya : “Belum dapat mas calonnya” (Malah Curhat)

Mas S : “Kerja udah berapa tahun?”

Saya : “Kalau di Bandung sih sudah 1 tahun lebih mas”

Mas S : “Umur sudah berapa?”

Saya  : “** Tahun ” (Angka tidak dimunculkan)

Mas S : “Kerjaan udah ada, umur sudah cuku, berarti emang tinggal nikah nya ini yang belum”

Saya : “Pengennya sih gitu mas, tp gimana lagi belum ketemu juga jodohnya”

Mas S : “Lha udah di cari belum jodohnya, di cari dong, kalau ga di cari ya mana ketemu”

Saya : “#jleebbbb”

Mas S : “Kalau saya dulu sih, sekali kenalan langsung dapat sih, lewat ta’aruf, ya sebenarnya sempet mikir juga, tapi setelah tak pikir, kalau harus cari cari yang lain lagi entar malah ga dapat, ya udah yang dikenalin aku waktu itu ya terus aku nikahin aja… hehehehe”

Saya : “hehehehehehehe….”

Tak terasa no antrian terus bergerak sampailah ke giliran Mas S dan disaat itulah kami berpisah, tidak butuh selang waktu yang begitu lama, tiba giliran saya, sekitar pukul 10.00 saya baru bias mendapatkan SPRI saya dan meninggalkan kanim bandung untuk kembali ke Kantor.

Mudah dan cepat ternyata bikin passport ya, total waktu yang saya butuhkan untuk membuat passport yang mengharuskan saya meninggalkan kegiatan rutinitas, kurang lebih sekitar 8 jam. Dan total biaya yang saya keluarkan adalah 255 ribu untuk passport + 7 ribu untuk materai.

So, semoga dengan adanya passport ini, keinginan untuk singgah di negeri orang bisa terwujud, seenggaknya ke Mekkah… Aamiin Yaa Allah…

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>