Kemuliaan Tak Lekat dengan Ketamakan

Memang benar hidup ini layaknya sedang bermain – main, seperti yang telah disampaikan Allah melalu al – qur’an,

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain – main saja” (At Taubah 65)

dan tentunya permainan pun akan ada akhirnya, begitu juga hidup kita, tidak lain dan tidak bukan kematianlah akhir dari senda gurau kita ini. Dan sudah berapa banyak dari kita, termasuk saya yang menggunakan hidup ini hanya untuk main main belaka. Hingga pada akhirnya kita menyadari bahwa tidak sedikit apapun yang kita dapatkan. Tak ada lagi gelak tawa,  karena permainan telah usai.

Bisa kita ambil ibrah dari cerita berikut, berkisah anak kecil yang masih ingusan. Ketika itu dia meminta uang kepada ibunya untuk membeli petasan, sang ibu pun tak mengizinkan. Tak berselang lama pecahlah tangis anak tersebut, merengek dan memohon untuk dibelikan petasan. Sang ibu pun luluh, diberikanlah uang kepada anak itu. Sang anak dengan semangat menuju tempat si penjual petasan, berpanas panas, badan penuh keringat dan rasa capai yang sangat. Sepulang dari beli petasan pun, dia sempat terjatuh, darah pun keluar dari luka yang ada. Tapi tak jadi mengapa buat si anak karena petasan masih di dalam genggamanya. Tibalah si anak di rumah, dan saatnya menyalakan petasan, tapi bukan dia yang menyalakan, tapi menyuruh abang nya yang menyalakan, sebelum petasan di nyalakan, dia bilang ke abang nya, “Bang bentar, adik tak ngumpet dulu”, sambil menutup telinga dan bersembunyi, sang anak kemudian keluar lagi dan bertanya kepada abangnya, “Bang, keras ga tadi petasannya?”.

Terus apa yang anak kecil itu nikmati, seakan akan tangisan, air mata, peluh keringat dan rasa capai bahkah darah yang telah dia korbankan untuk mendapatkan petasan tak sedikitpun yang dia nikmati, justru orang lain yang menikmatinya. Bukankah telah banyak kita diperlihatkan hal  - hal serupa, beberapa waktu yang lalu, kita diperlihatkan dengan berita berita mengenai, para koruptor yang berpeluh peluh, tiada lelah untuk mengumpulkan harta dengan cara yang tidak dibenarkan, hanya untuk punya rumah mewah dimana – mana, mobil mewah bejibun, tanah luas berhektar – hektar, tapi bukan dia yang menempati, bahkan atas nama pun pakai nama orang lain, punya simpanan emas di bank luar negeri, yang dia pun tak pernah melihat bahkan memegangya, hingga tibalah permainan usai, tak ada sedikitpun barang barang tadi yang bisa dia bawa mati, alih alih bisa dia nikmati. Sia – sia sudah.

Lalu haruskah kita kaya, mengejar, mengumpulkan harta? Tidak…

Karena kaya tidak ada ukurannya, maukah kita diberikan gaji 200 juta per bulan, bukankah dengan gaji 200 juta per bulan kita bisa dikatakan kaya? bisa? Bisa jadi kita punya gaji 200 juta per bulan tapi kita punya penyakit yang tiap bulannya habis 250 juta untuk pengobatan. Hehehehe… bukan untung malah nombok…

Maka bukan kaya yang kita butuhkan, tapi cukup… Ketika kita punya pengeluaran tidak lebih besar dari pendapatan. Pokoknya cukup aja. Untuk apa? ibarat kita punya ratusan pasang sepatu, tetapi tidak ada yang cukup.

Harta takkan membuat kita mulia, apa yang punya mobil mewah, rumah mewah, gadget terbaru akan membuat dia mulia? tidak…

Telah dihadirkan kepada kita sebaik baik tauladan, Muhammad Rasulullah… Beliau tidak kaya, rumah pun biasa tapi lihat sampai sekarang nama nya masih dikenal dan dikenang dengan indah.

Sungguh kemulian tidak lekat dengan ketamakan…

“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)“ HR Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang shahih, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan syaikh al-Albani.

 

Bandung, 31 Mei 2013

Di intisarikan dari kajian ma’rifatullah AA Gym

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>