Irvan Arifin, Selamat Jalan Kawan…

Pagi ini datang sebuah kabar yang membuat seluruh tubuh ini bergetar, seakan tak percaya, notifikasi WA di group TIF 2006 pun tak berhenti berbunyi. Hampir pecah tangisan saya saat menelepon Imam untuk memastikan kesahihan kabar berita tersebut. Sesak terasa dada ini.

Kabar Lelayu

Seorang sahabat, kawan kita semua Irvan Arifin dalam usia nya yang masih cukup muda telah dulu pergi meninggalkan kita semua untuk selama lama nya.

Tak kusangka bahwa tanggal  24 Juni 2013 kemarin adalah pertemuan kita yang terakhir, tak kusangka malam itu adalah malam terakhir engkau aku boncengkan.

Warung Bu Santi, Seturan, Jogja, bertiga kita makan bersama, aku, kamu dan nurdin. Siapa yang bisa menyangka bahwa pedas nya sambal bu santi menjadi makan malam bersama terakhir kita. Seperti biasa kita sering memburu masakan dengan rasa yang pedas.

Salam yang terucap darimu di pintu masuk gang dari jalan demangan menuju kos pak hadi, ternyata menjadi salam perpisahan kita, untuk selama lamanya.

Selepas lebaran kemarin kudengar kamu sakit, sayang waktu dengar kabar itu saya sudah harus kembali ke bandung, tempat ku bekerja sekarang. Dan 11 Oktober nanti sebenarnya sudah kurencanakan menengokmu, karena teman – teman yang lain sudah sempat menengokmu, sedangkan aku belum, tiket sudah aku beli dan aku ajukan hari agar aku bisa turun di jogja dan lanjut ke lamuk gunung, temanggung rumah mu. Namun ternyata waktu tak bisa menunggu.

Nikahan Fathan
Ari, begitu keluarga dan orang di kampung mu memanggilmu, engkau berhasil mendobrak tradisi atau kebiasaan di desamu  bahwa pendidikan yang tinggi itu tidak begitu penting, masih ingat cerita mu bahwa orang dengan pendidikan tertinggi di tempatmu adalah pak carik, dengan predikat pernah kuliah tapi tidak lulus . Ya, para laki laki di desamu lebih memilih berhenti sekolah setelah lulus SMA, menikah dan kembali ke ladang, dan para perempuan lebih memilih nikah muda selepas lulus SMP. Bahkan katamu, para perempuannya sudah di inden (di pesan) sejak SD… hehehehe…

Kamu berhasil membuktikan dan menjadi sarjana pertama di tempatmu, dan bila waktu masih bisa menunggu, saat ini seharusnya kamu sudah memulai pendidikan S2 mu di UGM.

Kadang aku bergurau, kelak kamu akan jadi kepala desa… hehehehehe…

Sering saya main ke rumah mu, mungkin paling sering di antara teman teman yang lain, jelas terlihat dari keseharianmu di rumah, yang begitu ramah “semanak” srawung dengan para tetangga, begitu hormat dengan orang tua, seorang kakak yang menyayangi adik adik nya.

Tak heran, engkau mudah berteman dengan siapa saja, maka setiap berkunjung ke rumah teman, aku andalkan kamu sebagai juru bicara, jelas karena kemampuan bahasa jawa mu yang lebih baik dan cara bicaramu yang lebih halus daripada aku.

Lamuk Gunung

Selama berteman dengan mu, tak pernah sekalipun aku melihat kamu marah. Bahkan selama 2 tahun kita bertetangga kamar kos, dengan Nurdin dan Riyan tak teringat satu pun di kepalaku kelakuan yang kurang menyenangkan darimu. Bahkan kamu lah yang jadi anak lanang (anak kesayangan) nya pak hadi (pak kos)… hehehehehe…

Begitu banyak kenangan yang kita lalui bersama teman – teman… seolah olah itu baru terjadi kemarin… dan seakan masih bisa berulang ketika aku berkunjung ke jogja lagi,  semua teman teman pasti sepakat nyaman berada denganmu.

Tapi begitulah kehendak Allah, semua tidak bisa kita pungkiri, rezeki, jodoh, maut memang hanya Dia lah yang bisa mengatur.

Tak akan lagi bisa kita duduk bersama, ngangsu kawruh di angkringan nya lek nardi, sambil menikmati teh panas nya yang tak tertandingi.

Tak akan lagi ada “grepyekan” mu yang spesial di punggung kita, “grepyekan” yang hampir pernah di rasakan semua teman – teman.

Tak akan lagi kita bisa duduk bersama, mengkaji ilmu agama, seperti waktu waktu lalu.

Kampus
Kawan, terima kasih sudah mengizinkan saya untuk menjadi teman mu, mendapatkan pelajaran yang luar biasa dari mu, semangatmu menuntut ilmu dengan background desamu yang seperti itu, benar benar aku acungin jempol.

 

Dan maafkan aku, karena tidak bisa hadir untuk mensholatkan jenazahmu mu, sekedar menatap jasadmu untuk yang terkahir kali, mengantar tubuh mu ke tempat peristirahatan terkahirmu.

Di sini, terpaut kurang lebih 385KM, aku hanya bisa mendoakanmu, semoga engkau mendapatkan tempat terindah di sisi Nya melebihi keindahan keindahan yang perhah kau hadirkan kepada kita semua, semoga engkau mendapatkan balasan atas kebaikan, melebihi kebaikan yang telah engkau perbuat kepada kita semua, semoga engkau mendapati kebahagiaan, canda, tawa melebihi yang telah kau berikan kepada kita semua, semoga engkau mendapat kemuliaan, melebihi saat kamu memuliakan orang orang disekitarmu. Semoga kau dapati bidadari mu di sana, bidadari bidadari yang pernah kita bincangkan. Engkau orang baik van… orang yang sangat baik.

Dan akhirnya, selamat jalan kawan… semoga engkau tenang disana, di dalam kehangatan pelukan sang pencipta, kekasih yang selama ini kita rindukan. Semoga semua kebaikan mu menjadikan sebab syafaat di hari akhir kelak.

Bandung, 15 September 2013

Comments

  1. By rischan

    Reply

  2. By Cahaya

    Reply

    • By Dian S. Prastowo

      Reply

  3. By Tyas

    Reply

    • By Dian S. Prastowo

      Reply

  4. By ninin naela

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>