Lagi lagi soal mental…

Semalam waktu menghadiri event ideabox meetup di vanilla cafe bandung, event sosialisasi mengenai inkubator bisnis teknologi yang di dukung oleh indosat, lebih lengkapnya bisa cek di ideabox.co.id , saya beruntung bisa satu meja dengan Sebastian Togelang, salah satu putra Indonesia yang  lama tinggal di Jerman dan sukses membangun bisnis nya di Jerman, kemudian saat ini berperan sebagai managing partner dari ideabox mewakili mountain partners. Sedikit banyak dia bercerita bagaimana dia membangun usahanya di Jerman. Termasuk kenapa dia akhirnya memilih kembali ke Indonesia, kata nya Indonesia masih kaya potensi termasuk dalam persaingan dalam industri IT, bisnis nya dari perusahaan yang dia bangun di Jerman setelah melalui perjalanan panjang melalui jatuh bangun,  sekarang sudah stable dan sustainable, membuat dia ingin mencari tantangan baru, dan akhirnya dia memutuskan kembali ke Indonesia dan ingin membantu startup startup Indonesia salah satu nya melalui ideabox ini. Dia kurang lebih baru 5 bulan tinggal di Indonesia.

Bisnis yang pertama kali dia bangun adalah IT Outsourcing, awal awal dulu sempat buka di Indonesia namun kemudian ditutup, “bukan karena skill orang kita yang buruk, klo dari coding nya orang kita ini ga kalah jago kok dengan yang lain. Cuma soal manajemen secara keseluruhannya aja yang kurang, seperti dokumentasi, dll, dulu waktu buka yang di Indonesia saya split jadi dua Jerman dan Indonesia dengan perlakuan yang sama, bahkan saya sempat keluar biaya banyak untuk bayar internet, waktu itu kita tahu sendiri internet masih mahal dan lambat lagi, dari situ saya bisa membandingkan kinerja mereka, gini katakanlah saya minta di bikinin A, sama orang Jerman saya di kasih nya A+ sedangkan sama orang kita di kasih B pun waktu itu saya sudah bersyukur. Itu lah yang membedakan kita sama orang Jerman, berdasar apa yang saya alami ya. Orang Jerman itu selalu tertantang untuk berbuat lebih, selalu ada motifasi untuk selalu dan selalu improve. Jelas karena lingkungan mereka secara tidak langsung memaksa seperti itu, klo tidak kreatif dan berbuat lebih akan kalah dengan yang lain, karena persaingan di sana sangat ketat. Misal di Jerman ngomong besok jam 12 selesai, ketika ditagih ya emang sudah selesai, tapi yang saya alami terhadap orang kita ketika janji besok jam 12 selesai, besok itu ga jelas kapannya bisa besok itu minggu depan, bulan depan. hahahahaha ”

“iya,memang supervisi di Indonesia harus lebih ketat”, sahut salah satu teman.

“Bukan gitu ya, seharusnya tanpa di awasi pun seharusnya kita bisa komit dengan kewajiban atau tanggung jawab kita, ya saya lihat emang waktu itu pribadi kita belum sampe segitu, waktu itu lho ya, saya ga tau sekarang gimana apakah masih sama, saya rasa sih seharusnya sekarang sudah berubah.”

#jleebbb…

Saya hanya bisa tertawa kecut…

Masih di tempat yang sama dengan waktu yang lebih awal.

Saat pertama masuk ke vanilla cafe tempat nya bagus, cozy, nyaman, teman saya nyeletuk, “wah, enak juga ya klo punya kantor kayak gini. eh, tapi klo enak kayak gini entar malah bikin ga konsen kerja, entar coding nya malah dikit, lebih banyak santai santai nya.”

Saya jawab, “itu sih tergantung mental masing masing sih, mau di kasih fasilitas yang buruk sekalipun. Klo emang komit sama yang jadi tanggung jawab dia, ya ga jadi masalah, apalagi dengan di beri fasilitas yang bagus seharusnya akan lebih memacu dia untuk lebih produktif lagi, bukan malah jadi males males an.”

Klo kita menilik kondisi lingkungan perusahan perusahan IT Raksasa, seperti Google, Facebook, Twitter  mereka seakan akan berlomba untuk menciptakan lingkungan kerja yang senyaman dan semenyenangkan mungkin dengan fasilitas fasilitas yang mungkin tidak pernah kita temui di perusahaan konvensional lainnya.

Dan perusahaan saya saat ini meskipun belum sebesar mereka, (Insya Allah bakal menjadi besar… Aamiin) seenggaknya sedikit banyak telah meniru gaya gaya mereka. Untuk menciptakan kenyamanan kerja, dan menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan dan tidak membosankan. Antara lain, kita tidak ada pakaian resmi, kita bebas mengenakan pakaian yang kita suka tapi tetep harus sopan… (ini jelas sangat menguntungkan saya yang tidak punya baju selain warna hitam) :D , ada fasilitas meja pingpong, dimana kita bisa main kapan saja selama ada lawan :D , futsal minimal 1 minggu sekali, untuk yang cewek ada senam aerobik, makan siang bersama yang di sediakan dari kantor, TV kabel. Jam kerja yang tidak di tentukan, harus berangkat jam berapa pulang jam berapa,  yang penting tahu porsi jam kerja masing – masing “wah, enak ya”, yah saya sendiri merasa sangat nyaman. Ada satu pesan yang saya tangkap, yang ingin di sampaikan oleh perusahaan kepada masing – masing individu untuk sadar kewajiban dan hak masing – masing, agar kita bisa menjadi supervisi bagi pribadi kita sendiri, di sinilah mental kita di uji, perusahaan telah meberikan fasilitas yang sedemikan rupa, dan akan menjadi seperti apa kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>