Dengan Akal dan Nurani Kita

Beberapa hari yang lalu waktu saat melihat acara mata najwa

Kebetulan waktu itu tokoh yang diwawancarai adalah Ahok wakil gubernur DKI Jakarta, ada pernyataan dari dia mengenai bagaimana seorang pejabat ketika diberi hadiah,

Misal waktu saya jadi bupati, temen saya kirim kulkas yang besar, temen usaha saya kenal gitu, nah saya tolak dia marah marah, kamu sombong sekali tidak mau terima kulkas saya! nah saya menduga, ini ngasih bukan karena temen tapi karena bupati, karena waktu saya nikah waktu bapak saya meninggal  dia cuma kasih seratus ribu, artinya ini temen ga bener, ya pas waktu saya susah kasih dua juta kek, waktu menikah gitu kan. Giliran saya jadi bupati dikasih kulkas, wa ini berarti ga bener.

Secara akal sehat sebenarnya kita bisa tahu kondisi yang seperti di atas, ketika kita diberi hadiah karena jabatan kita itu benar untuk diterima atau tidak. Tidak perlu lagi kita mencari dasar untuk bisa menentukan tindakan menerima gratifikasi itu benar atau tidak. Cukup akal dan hati nurani kita yang berbicara, kita bisa memutuskan.

Khutbah Sholat Jum’at Hari ini di Masjid Al Murabbi Setrasari Bandung

Khotib menyampaikan juga mengenai pejabat atau pegawai negara yang menerima hadiah, beliau mengambil kisah dari hadis, beliau bercerita waktu itu Rasulullah Shollallahu’alaihiwasallam mempekerjakan seseorang untuk menggalang dana zakat dan jizyah (dana yang di tarik dari orang orang kafir yang masih dalam perlindungan pemerintahan islam), hingga pada suatu waktu petugas ini menyerah kan dana yang dikumpulkan, sebagian dari dana tersebut dia ambil karena kata dia itu merupakan hadiah yang di berikan orang – orang kepadanya. Mengetahui hal itu Rasul langsung mengambil hadiah tersebut dan turut menyerahkan hadiah tersebut kepada negara, kemudian lanjut sang khotib, Saat itu juga Rasullullah secara spontan naik mimbar  ”Tidak ada satupun dari kalian pekerja yang telah ditunjuk untuk melaksanakan tugas negara dan kalian telah mendapat upah darinya untuk menerima hadiah, coba jika kalian duduk saja di rumah ibu bapakmu akankah hadiah itu datang kepadamu”.

Setelah saya coba mencari di Kitab Bukhori apakah ada hadis yang kurang lebih seperti disampaikan khotib tersebut, saya menemukan hadis nya dengan bunyi sebagai berikut,

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّهْرِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ عُرْوَةَ أَخْبَرَنَا أَبُو حُمَيْدٍ السَّاعِدِيُّ قَالَ اسْتَعْمَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ بَنِي أَسْدٍ يُقَالُ لَهُ ابْنُ الْأُتَبِيَّةِ عَلَى صَدَقَةٍ فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سُفْيَانُ أَيْضًا فَصَعِدَ الْمِنْبَرَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ مَا بَالُ الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ فَيَأْتِي يَقُولُ هَذَا لَكَ وَهَذَا لِي فَهَلَّا جَلَسَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَنْظُرُ أَيُهْدَى لَهُ أَمْ لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَأْتِي بِشَيْءٍ إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ أَوْ شَاةً تَيْعَرُ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَتَيْ إِبْطَيْهِ أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ ثَلَاثًا قَالَ سُفْيَانُ قَصَّهُ عَلَيْنَا الزُّهْرِيُّ وَزَادَ هِشَامٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ قَالَ سَمِعَ أُذُنَايَ وَأَبْصَرَتْهُ عَيْنِي وَسَلُوا زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ فَإِنَّهُ سَمِعَهُ مَعِي وَلَمْ يَقُلْ الزُّهْرِيُّ سَمِعَ أُذُنِي { خُوَارٌ } صَوْتٌ وَالْجُؤَارُ مِنْ { تَجْأَرُونَ } كَصَوْتِ الْبَقَرَةِ

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri, ia mendengar ‘Urwah telah mengabarkan kepada kami, Abu Humaid assa’idi mengtakan, Pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mempekerjakan seseorang dari bani Asad yang namanya Ibnul Utbiyah untuk menggalang dana sedekah. Orang itu datang sambil mengatakan; “Ini bagimu, dan ini hadiah bagiku.” Secara spontan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri diatas minbar -sedang Sufyan mengatakan dengan redaksi; ‘naik minbar-, beliau memuja dan memuji Allah kemudian bersabda; “ada apa dengan seorang amil zakat yang kami utus, lalu ia datang dengan mengatakan; ini untukmu dan ini hadiah untukku! Cabalah ia duduk saja di rumah ayahnya atau rumah ibunya, dan cermatilah, apakah ia menerima hadiah ataukah tidak? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-NYA, tidaklah seorang amil zakat membawa sesuatu dari harta zakat, selain ia memikulnya pada hari kiamat diatas tengkuknya, jikalau unta, maka unta itu mendengus, dan jika sapi, ia melenguh, dan jika kambing, ia mengembik, ” kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sehingga kami melihat putih kedua ketiaknya seraya mengatakan: ” ketahuilah, bukankah telah kusampaikan?” (beliau mengulang-ulanginya tiga kali). Sedang Sufyan mengatakan; Az Zuhri telah mengisahkannya kepada kami, dan Hisyam menambahkan dari ayahnya dari Abu Humaid mengatakan; ‘kedua telingaku mendengar dan mataku melihatnya, ‘ dan mereka menanyakan kepada Zaid bin Tsabit bahwasanya ia mendengarnya bersamaku, sedang Az Zuhri tidak mengatakan; ‘telingaku mendengar lenguh’. [Bukhori  - 6639]

Ada kondisi yang hampir sama antara apa yang di gambarkan AHOK dan kisah petugas zakat di atas, JIKA BUKAN KARENA DIA PEJABAT (BUPATI) APAKAH AKAN DATANG HADIAH KULKAS YANG BESAR TERSEBUT, sedangkan dari petugas zakat, JIKA BUKAN KARENA DIA PETUGAS ZAKAT (JIKA SAJA DIA HANYA DUDUK DI RUMAH) APAKAH AKAN DATANG HADIAH TERSEBUT.

Dari analogi yang Rasul sampaikan, saya menangkap bahwa kita di ajak untuk menggunakan akal sehat kita, menggunakan hati nurani kita, untuk kondisi seperti tersebut seharusnya kita bisa menentukan apakah dengan menerima hadiah karena posisi kita sekarang adalah sesuatu yang dibenarkan.

Sungguh suri tauladan yang terbaik adalah Nabiullah Muhammad Shollallahu’alaihi wasallam, dari nya lah kita bisa ikut meniti jalan kebenaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>