Lesson 4 today, Apakah Benar Bawaan Golongan Darah?

Hari ini adalah hari kedua brainstorming perusahaan, ada kalimat yang cukup membuat saya merenung. Ketika mas Alfin (pemilik perusahaan) dengan bercanda menyampaikan, “Ini misalkan saya tawarin uang 10 juta seorang untuk bikin sharing session aja pasti pada ga minat”, dengan spontan keluar dari mulut saya, “Sharing session apaan dulu nih?” Kemudian mas Alfin jawab lagi, “Nah kan, malah masih pake nanya sharing session nya tentang apaan? Klo saya yang ditawari udah pasti saya ambil nih. Entah nanti sharing session nya mau apaan yang penting saya ambil dulu. Kemarin pada ditawarin jatah smartphone satu satu pada ga ada yang mau jawab, padahal misal dalam 2 hari saja ada yang minta saya beliin tuh.”, Saya jawab lagi, “Lha kemarin ditulis tim kok, bukan perorangan ya ga jadi minta.”, mas Alfin jawab lagi, “Emang terlalu banyak excuse aja kamu ini”. #jleebbbb… Sejenak itu membuat saya berfikir, seakan kata kata “terlalu banyak excuse” itu membawa saya berjalan kembali ke belakang, mengingatkan pada saya begitu banyak peluang dan kesempatan yang datang namun kadang terlewat begitu saja karena terlalu banyak mikir, “jangan jangan”, “tapi”, “nanti dulu”.

Seakan alasan alasan tadi menjadi sebuah kebiasaan, atau respon yang muncul pertama kali ketika dihadapkan dengan peluang. Memang ga aneh sih, ketika melihat visualisasi tingkah laku golongan darah A. Di sana sering digambarkan kalau darah A itu  paling taat ketika ada sebuah peraturan tak ada sedikit keberanian untuk melanggar, ketika mau melakukan sesuatu persiapannya paling lengkap, mendaftar semua kebutuhan nanti dengan lengkap, detail, dan terlalu banyak mikir ketika akan memutuskan sesuatu, memastikan dulu terhadap suatu hal. Lebih lengkapnya lihat langsung aja di sini. Dan saya merasa seperti itu juga ketika dalam mengambil keputusan, saya harus banyak mikir dulu bagimana kedepannya, misal begini maka harus gimana. Intinya saya perlu memastikan dulu lah. Itu lah kenapa teman teman saya mengatakan ke saya, “dadi uwong ki sing sat set ngono lho, cekat ceket, nek ora ndak selak di disik i wong liyo”. Artinya, “Jadi orang itu yang gesit, tangkas, responsif,  kalau tidak entar malah di dahului orang lain.”, Seenggaknya itu yang saya alami di masalah asmara, sudah berapa kali ya karena kurang “sat set” nya saya akhirnya di tinggal nikah… (hahahahaha… nggak yang ini bercanda aja…). Ya itu tadi, maksdunya karena kurang “sat set” nya saya entah udah berapa peluang yang saya lewatkan, tapi di sisi lain ada untung nya juga, karena waspada itu perlu, mempelajari suatu hal itu perlu. Tapi kalau untuk tawaran mas Alfin di atas kenapa secara otomatis respon saya juga seperti itu ya, 10 juta bro. hehehehehe…

Tapi yang membuat saya berfikir kenapa yang diam lebih banyak ya alih alih ikut beralasan seperti saya. Hhmmm, masak ya semua teman kerja saya semua nya berdarah A, kan ga mungkin. Yang saya tahu sih ada beberapa teman yang berdarah O, tapi kenapa mereka malah memilih diam. Maka saya teringat omongan Bapak saya, waktu itu saya ngobrol bagaimana bapak bisa melewati semua bisnis yang dia geluti, dengan jatuh bangunnya dan tetap semangat pantang menyerah. Oh, iya bapak saya ini cuma lulusan SMEP (SMP) tapi kemudian ikut kejar paket C (SMA) karena beralasan ga mau kalah karena anak anak nya sekarang sudah pada SMA. Bapak saya pernah menjalankan bisnis traktor untuk bajak sawah, daerah jelajahnya bahkan sampai daerah Ngawi, itu waktu saya belum lahir. Kemudian beralih ke Studio Photo, pertama di kecamatan saya, dan satu satu nya yang bisa cuci cetak hitam putih kala itu, kemudian beralih ke bisnis konveksi, dibisnis ini lah saya pernah merasakan yang namanya hidup berkecukupan, maksudnya ketika saya minta sesuatu alhamdulillah waktu itu bapak bisa memenuhin. Hingga akhirnya sampe kejatuhannya karena peristiwa 98 membuat bisnis bapak bangkrut dan bubar, di kondisi inilah saya pernah merasakan hidup berkekurangan,dari tadinya punya 2 mobil 2 motor akhirnya dijual semua, karena harus merumahkan ratusan karyawan dan membayar para penjahit penjahit rumahan yang ikut ngambil kerjaan ke bapak, 1 kontainer penuh yang tidak sempat dibayar waktu itu, namun alhamdulillah masih punya alat transportasi sepeda onthel. Tapi bapak ga menyerah kemudian bangkit lagi dan sukses merintis usaha mebel nya, namun lagi lagi harus kandas. Dari pengalaman yang begitu banyak bapak lewati saya sempat bertanya, apa yang ingin bapak sampaikan ke saya, misal saya ingin mengikuti jejak bapak. “KEBERANIAN”, kamu harus punya keberanian dan pantang menyerah terus semangat, kata kunci itu lah yang membuat bapak bisa melewati semua ini dengan background beliau hanya seorang lulusan SMP, namun saya rasa ilmu yang beliau punyai dari pengalaman yang beliau jalani melebihi seorang sarjana. Dan keberanian itu bisa dilatih meskipun akhirnya hanya beberapa orang saja yang benar benar bisa memilikinya, berani mengambil peluang, berani mengambil keputusan, berani mengambil resiko tanpa “nanti” tanpa “tapi”. Cara terbaik untuk mempelajari sesuatu yaitu dengan cara mengerjakannya, katakanlah misalkan itu nanti gagal seengaknya kita sudah bertumbuh, ilmu yang kita miliki akan lebih dari pada hari kemarin.

Dan akhirnya sepertinya saya harus melatih keberanian saya dalam mengambil peluang, keberanian untu memutuskan sesuatu lebih cepat dan berani mengambil resiko namun waspada itu tetap perlu.

Comments

  1. By ropz

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>