Baru tahu, cara yang begitu itu sebutannya MVP (Minimum Viable Product)

Dipenghujung tahun 2013 kemarin dapat ilmu dari mas anggi (@iCreativeLabs) dari tweet yang kemudian diperjelas lewat tulisan di tumblr nya.

kebetulan waktu itu di tempetku lagi mulai untuk collect ide dari teman teman untuk kemudian dilakukan pitching, jelas ilmu ini sangat bermanfaat bagi saya untuk menjabarkan  ”how to get started” khususnya sales & marketing produk dari ide saya.  Waktu itu ga tau istilahnya apaan metode yang seperti ini, tapi saya dapat point nya, yaitu menguji inti (core) ide kita kepada khalayak umum apakah produk yang akan kita bikin ini sesuai yang kita asumsikan, jelas kalau sesuai asumsi diri sendiri, merasa bahwa ide ini nanti bakal jadi sebuah produk yang keren, wahh, banyak yang minat, banyak yang pake dsb, tapi sesuaikah dengan asumsi pasar, bener ga pasar membutuhkan produk yang akan kita bikin ini.

Dari penjelasan singkat yang mas anggi sampaikan, ya kita kulonuwun dulu lah sebelum benar benar meluncurkan produk full version nya, coba bayangkan aja ketika kita punya ide untuk yang membuat produk yang dalam proses development nya sangat kompleks dan sulit, butuh keilmuan khusus, membutuhkan resource dan waktu yang lumayan lama, tapi tidak kita barengi dengan observasi permintaan pasar. Giliran produk nya sudah jadi, dengan segala sesuatu yang telah kita korban kan, eh… ternyata kaga dibutuhkan tuh… nyegir dah…

MVP (Minimal Viable Product), ternyata itu sebuatan untuk metode pengujian pasar atau strategi pemasaran tersebut. Baru tahu kemarin ketika mas alfin menyampaikan materi MVP ini disesi #BIGMengajar, sebuah program sharing session di perusahaan yang saya tempati sekarang. Ada beberapa startup yang disampaikan sebagai contoh, antara lain

1. Dropbox

Bagaimana dropbox memulai menawarkan produk nya hanya dengan sebuah “Landing Page” padahal produk nya belum ada, karena untuk membangun sebuah aplikasi seperti dropbox tidaklah mudah, dengan itu saja dapat 5.000 orang mendaftar, kemudian dibikinlah video yang menggambarkan bagaimana cara kerja dropbox, sebuah kejutan orang yang mendaftar melonjak menjadi 75.000

How Dropbox Started as an MVP

2. Buffer

Ini yang cukup menarik untuk saya, bagaimana cara buffer mulai menawarkan produk nya, trik yang dia lakukan agak nakal nakal dikit. Sama seperti DropBox aplikasi yang mau dilepas belum siap juga, cuma untuk menguji apakah ada yang mau membayar aplikasi ini buffer membuat “Landing Page” juga, tapi ditambahkan satu tombol “Plans And Pricing”  ternyata banyak juga yang klik tombol tadi, karena aplikasi belum siap yang muncul halaman seperti ini

Untuk menguji orang yang ngeklik tombol tersebut benar benar mau bayar atau nggak, buffer nambahin 1 halaman lagi, yaitu halaman “Plans and Pricing” dengan 3 pilihan. Ternyata dari percobaan itu yang mau bayar dengan harga yang ditawarkan cukup banyak, lagi lagi karena aplikasi belum jadi yang muncul ya masih halaman yang sama denga di atas.

How Buffer Started as an MVP

3. Groupon

Klo menurut dari cerita mas alfin, groupon ini berbeda dengan 2 startup diatas, groupon tidak melakukan uji pasar layak nya 2 startup di atas, tapi memulai groupon dengan bertahap, tidak langsung membuat aplikasi dengan sempurna, sistem mereka jalankan dengan manual dulu, tidak perlu membangun sistem dengan fitur yang serba online, maksudnya, tidak dengan keranjang belanjan, pembayaran online dan semacamnya, tp konsep yang dari alur bisnis mereka jalankan bukan by system, sepertinya di awal mereka hanya membangun situs mereka dengan wordpress, kemudian mereka memulai memampang beberapa katalog yang mereka kumpulkan sendiri dari merchant merchant yang jadi target mereka. Orang orang yang berminat terhadap suatu produk yang ditawarkan oleh groupon mendaftar by email dan dibalas pun juga dengan email, baru ketika terkumpul orang nya, groupon menghubungi merchant untuk bernegosiasi misal produknya dibeli secara kolektif, tapi dengan harga sekian mau ga. Begitu prosesnya hingga groupon sebesar sekarang dan sistem yang canggih pula.

Dan masih banyak lagi startup yang menggunakan metode ini, seperti Bounce, Ghost  selain itu ada juga yang menggunakan metode blog-first / berbagi ilmu (pengetahuan) dulu, ketika sudah banyak yang merasakan manfaat dari ilmu yang dibagi tinggal drive aja para pengguna ke produk kita, seperti SitePoint men-drive pengguna mereke ke 99designs dan Flippa

Terus apakah metode MVP ini hanya berlaku untuk Startup dibidang Teknologi Informasi, tentu saja tidak, justru saya lebih dulu menemukan cara seperti ini bukan di bidang IT, cuma ya itu tadi ga tau sebutannya… hehehe… pernah lihat orang mau jualan buku / e-book nampangin gambar buku cover buku nya? yang sering saya temuin sih kayak buku buku Internet Marketing gitu… Jadi dia sebenarnya cuma jualan gambar aja, kemudian coba ditawarkan ke pasar, jika yang berminat banyak barulah buku itu dibikin atau dicetak.

Sometimes the idea can be completely right, but the target market completely wrong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>