Rezeki Tidak Disangka – Sangka : (Lodaya Pagi)

Kemarin saya melakukan perjalanan rutin 2 bulanan pulang ke kampung halaman dari Bandung menuju Solo. Tak biasanya saya menggunakan kelas Bisnis untuk melakukan perjalan baik Bandung – Solo ataupun Solo – Bandung, terakhir naik bisnis waktu datang ke nikahan teman pertengahan tahun 2013, dari Pasar Senen naik Senja Utama Malam. Bukan tanpa alasan, selain karena entah kenapa klo naik bisnis dan sampai tertidur sampai tujuan badan akan terasa sakit semua selisih harga bisnis ke eksekutif juga tidak terpaut jauh apalagi tiket nya yang bayarin kantor, makanya jikalaupun darurat harus naik kelas bisnis saya usahakan naik nya siang hari, biar ga tertidur karena asyik melihat pemandangan, atau klo ga baca buku.

Nah, rencana kemaren pengennya pulang sebelum natal tapi udah kehabisan tiket untuk kelas eksekutif pun sampai tanggal 26 malam, saya biasa melakukan perjalanan malam, agar selama perjalanan bisa istirahat. Karena ga bisa klo harus mundur mundur lagi pulangnya, ya udah nyari yang perjalanan siang, itu pun juga udah ga kebagian tiket, akhirnya tanggal 27 pagilah bisa dapat tiket.

Perjalanan kali ini agak gimana juga sih, selain bibir masih bengkak karena benturan waktu futsal dan masih terasa cenut cenutnya, selain itu kucing betina saya baru saja melahirkan malamnya, ditambah buku yang saya bawa sebagai bacaan selama perjalanan adalah “Jonan & Evolusi Kereta Api Indoesia”. Sudah saya perkirakan nanti bakal lebih terasa emosi nya ketika baca buku tentang perkeretaapian dan dibaca di atas kereta api pula. Namun sebelum semua itu terjadi, tiba tiba saya dikejutkan oleh sapaan salah satu petugas kereta api. Saya sebenarnya ga begitu ngeh, karena waktu dia nawarin untuk sewa bantal, saya lagi asyik bales pesan dari teman, jadi saya tolak tawaran bantal tanpa memperhatikan orangnya. Tak selang beberapa lama setelah beberapa bantal nya laku, dia balik lagi dan kemudian menyapa “Mas, njenengan lak putra ne bu Endang tho?” (Mas, kamu ini anaknya bu Endang kan?). Yappp, emang apalah saya tanpa orang tua saya, sejak SMA praktis saya jarang bergaul dengan teman kecil maupun lingkungan sekitar, apalagi semenjak kuliah saya lebih sering di rumah ketika liburan. Jadi ya lebih banyak orang yang mengingat saya sebagai anaknya pak Sadi dan bu Endang, daripada langsung menyebut nama saya. hehehehehe… Saya sendiri juga masih agak kikuk dengan sapaan dia, karena sebenarnya saya masih asyik chat dengan temen, dan saya mencoba mengingat-ingat dan ahaa.. “Loh, iki lak didit tho?” (Loh ini didit kan?). Ternyata yang menyapa adalah tetangga kampung anak nya mas Pardi Tukang (Tukang Bangunan) dan mbak Sipon (Ibu Kantin SMP tempat saya bersekolah), sebenarnya saya juga ga nyangka aja dia kerja jadi pramugara dan penempatan di DAOPS Bandung pula. Katanya sudah setahun dia kerja di KAI, pantesan beberapa kali pulang, saya ga pernah lihat dia, biasanya sering ketemu waktu sholat jama’ah di Masjid.

Dia sempat bercerita dikit hingga akhirnya harus melakukan tugasnya sebagai pramugara, dia bercerita, dia sendiri ga nyangka bisa ada di posisi dia sekarang, karena awalnya dia daftar jadi teknisi mesin, tapi kemudian ditempatkan sebagai tenaga penjulan di kereta banten – jakarta dan bisa mencapai target. Jadilah akhirnya dia ditempatkan sebagai pramugara di DAOPS Bandung ini. Sebelum lanjut melanjutkan tugasnya, dia memberikan bantal ke saya secara percuma, sambil nanya “Mas, wes sarapan durung?” (Mas udah sarapan belum?), saya jawab sudah sudah, tadi sudah sarapan, “Sarapan meneh yo, sante wae” (Sarapan lagi ya, sante saja), Saya tolak lagi tawaran dia. Saya bukannya mau sok nJawa ni (ewuh pekewuh, malu malu), tapi sudah lima bulan terkahir ini saya tidak membiasakan untuk sarapan, karena bagi saya sarapan hanya untuk orang2 yang lemah… nghahahahaha… (karena klo sarapan sudah dipastikan sekitar pukul 10-an ngantuk berat, padahal pengennya klo naik bisnis jangan sampe tertidur). Dannn… jengjeng… belum juga kereta berjalan lama, tiba satu paket nasi goreng dan teh panas… Waduh jadi enak ini.

Kereta terus melaju, perut udah kenyang, saatnya melibas buku yang dibawa (tentang buku ini akan saya bahas dipostingan lain aja, karena belum selesai bacanya), apa yang disampaikan dibuku ini cukup menarik, karena kebetulan ada salah satu pegawai yang bisa saya ajak ngobrol untuk membuktikan kebenarannya, saya bahas yang soal remunerasi di KAI, memang semenjak kepemimpinan pak Jonan ini kesejahteraan para pegawai KAI meningkat, terutama untuk pegawai pegawai diujung tombak pelayanan dan keselamatan. Seperti gaji penunggu palang pintu apapun lulusannya, kata pak Jonan waktu di acara talkshow di stasiun TV swasta bisa sampai 6 Juta, hingga katanya ada staff lulusan sarjana yang protes, “kok gaji saya lebih kecil dari petugas palang pintu?”. Jawab pak Jonan, “gaji disesuaikan dengan tanggung jawab dan kinerja, bukan ijzah, Klo kamu mau gaji  segitu ya daftar jadi petugas palang pintu”. Dan memang didalam bukunya pun di tulis bahwa gaji komandan lapangan harus lebih gede dari komandan dibalik meja. Maka saya jadi bertanya tanya, klo posisi seperti pramugara dan pramugari  pasti gede juga, karena selain mereka sebagai salah satu ujung tombak pelayanan, mereka juga sebagai tenaga penjualan (menjual makanan), artinya mereka merupakan aset KAI dan melakukan funding (memperoleh uang) diluar penjualan karcis. Sedangkan didit dan teman pramugari nya masih asyik mondar mandir menjajakan segala menu makanan dan minuman yang ada di kereta. Sedangkan saya masih asyik meneruskan kegiatan membaca saya, dan lagi saya di sodori 1 cup jus buah jamu merah, saya sudah berusaha nolak, tapi apalah daya, saya hanya hamba Allah yang lemah… :D *slluurppp… Ahhhh… Segeeerrr juga nih Jus nya, sambil membaca nyruput jus juga… hehehehehe… Wahhhh, jadi enak lagi nih.

Salah satu alasan saya memilih kereta api, karena saya ini ga betah an klo harus duduk lama, meskipun sudah di anugrahi pantat yang semok, tapi tetepa aja pegel. Jadi klo udah bosen duduk saya bisanya berdiri di deket pintu keluar, karena siang jadi bisa liat pemandangan, klo malam ya cuma bisa liat lampu lampu dan kegelapan, siapa tahu tiba tiba muncuk sesosok bayangan di kaca. hihihihi..

Lagi asyik menatap lepas pemandangan indah yang terhampar disepanjang perjalanan yang begitu terasa melankolis karena diluar sana sedang diguyur hujan, sembari nunggu waktu dhuhur biar wudhu sekalian, didit yang sedari tadi sibuk mondar mandir, kemudian nyamperin saya lagi. Kali ini dia cerita, dia salah satu yang beruntung, bisa ditempatkan di DAOPS Bandung ini, karena teman teman seangkatan dia banyak ditempatkan di Sumatera. Dan lagi lagi, sebelum kembali ke aktifitasnya, dia nawarin lagi karena kebetulah sudah waktunya makan siang, “Mas, mangan yo?” (Mas makan ya?). Karena masih kenyang nasi goreng, dan bibir masih ga nyaman buat makan, saya tolak lagi tawaran dia. Dia kemudian pergi melanjutkan tugasnya, dan saya masih asyik berdiri di balik pintu sambil memandangi sawah teras siring yang indah. Tiba tiba datang pramugari sambil menyodorkan satu paket Nasi Ayam Penyet… Waduhh, makin jadi enak lagi nih saya… Karena bingung mau ditaroh dimana nasinya, mau taroh makanan di bawah kursi kok ya go sopan, karena ga tau harus ditaruh di mana lagi, ya udah akhirnya satu paket nasi ayam penyetnya saya taruh diperut sadja… hahahahaha…

Perjalanan terus berlanjut, hingga akhirnya kereta lodaya pagi nyampe di Jogja, biasanya perjalanan dari jogja ke solo ini lah para petugas KAI bisa beristirahat sejenak, nah waktu yang sempit ini ga disia siakan  oleh didit untuk lanjut ngobrol dengan saya, banyak hal yang dia ceritakan mulai dia pamitan ke bapak ibu nya untuk daftar ke KAI, ketidakpercayaan dia atas Posisi yang ditempati sekarang jika dilihat dari nilai akademisnya, kerja yang begitu berat jika dapat tugas kereta seperti lodaya ini, karena hanya bisa istirahat 4 jam sebelum akhirnya kereta kembali lagi seiring beganti lodaya pagi menjadi lodaya malam, ataupun lodaya malam menjadi lodaya pagi. Jarang pulang, udah 5 bulan ini dia belum pulang, rencana februari tahun depan baru bisa pulang. Tapi terucap juga rasa syukur yang  dia sampaikan ke saya, bisa membuat orang tua nya bangga, karena kata dia kalau melihat nilai akademis nya dia ga terbayang bisa sampai pencapaian sekarang ini. Yappp, saya pun juga akan sangat bangga jika jadi bagian dari KAI, apalagi KAI sekarang ini.  Dan saya pun hanya bisa mencoba membesarkan hati dia untuk tetap fight di perusahaan pelayanan terbaik milik negara ini, berbekal beberapa bab dari buku yang sempat saya baca saat itu, saya coba sampaikan kondisi KAI seperti ini, reward apa yang bisa didapat jika kamu sepenuh hati mendedikasikan diri untuk KAI dalam melayani penumpang dan punishment apa jika misal kamu coba berulah. Saya kasih contoh juga bagaimana Sugeng Priyono lulusan SMA seorang penjaga lintasan yang bisa meniti karirnya hingga sekarang menduduki jabatan Vice President, terus ada bu Susi, perempuan yang bisa menjabat sebagai Kepala Daerah Operasi 9 Jember. Semua masih terbuka lebar ingin jadi apa kamu di KAI ini, kesempatan itu ada, selama kamu tekun, rajin dan punya integritas. Saya sempat pancing juga, karena ada rasa penasaran soal remunerasi (biasanya klo ngomongin duit itu kan bikin penasaran ya….hehehehe) saya sampaikan, “Ya semua ada konsekuensi nya, saya tiap 2 bulan bisa pulang, kamu ga bisa sesering saya pulang dan bisa lama lama di rumah, tapi kan apa yang kamu dapatkan lebih besar dari pada apa yang saya dapatkan tiap bulannya, seenggaknya misal ada yang kamu target kan soal ngumpulin rupiah itu lebih cepet dari pada saya, apalagi kamu masih muda (jadi berasa tua ya saya…)” (Padahal saya cuma main asumsi saja, klo gaji dia lebih gede… hehehehe). Terus dia respon, “mosok sih mas?  jujur ae mas, gajiku karo kondektur sing njeglogki karcis kui kacek 1,5 nang 2 juta lho mas, tapi yo ndisik aku ngalami soko gaji 600 terus 1,5 nek saiki aku pendak sasine total … ” (Masak sih mas? jujur saja mas, gajiku dengan kondektur yang ngecek karcis itu bisa selisih 1,5 sampe 2 juta lho mas, tapi aku dulu juga pernah merasakan gaji cuma 600 ribu terus 1,5 juta per bulan, tapi kalau sekarang setiap bulan total saya dapat gaji …). Nahhhh… bener kan asusmsi saya, gaji dia  1,754 kali lebih gede daripada saya, untuk lulusan dia yang SMK dan baru satu tahun kerja, nominal yang dia dapat sudah sangat besar. Jadi satu bab tentang buku yang saya baca sudah saya buktikan kebenarannya, bahwa di KAI sekarang yang di lihat adalah kinerjanya, bukan ijzahnya, juga bukan dia dekat dengan siapa.

Jam menunjukan pukul 15:50 sore, kereta lodaya pagi sudah sampai di Stasiun Balapan (masih terlambat 10 menit dari yang dijadwalkan). Saatnya saya berpisah dengan didit, karena dia harus bersiap untuk perjalan lodaya malam harinya menuju ke Bandung, Saya ucapkan banyak terimakasih untuk kebaikan hari ini, semoga Allah membalas berlipat kali atas kebaikannya. Sebelum berpisah, dia nitip salam ke bapaknya misal nanti ketemu di masjid, dan semalam waktu sholat isya’ saya ga ketemu mas pardi, dan sampai cerita ini diturunkan saya belum sempat juga ketemu dengan mas Pardi.

 

… Dan begitulah Allah mengatur rezeki yang telah persiapkan kepada hamba-Nya, bahkan dari asal yang tidak dia bayangkan sekalipun… Maha Besar Allah dengan segala Rahmat dan Rahim Nya….

Comments

  1. By Pro

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>