Self improvement dan Teladan sang dosen

Dulu ketika masih jadi asisten praktikum di kampus UIN Sunan Kalijaga, ada hal rutin yang kami lakukan. Kenapa kami? karena kebiasaan ini tidak hanya saya saja yang melakukan, tapi hampir semua teman teman seangkatan yang jadi asisten praktikum pun melakukannya. Yaitu melakukan evaluasi diri tentang cara kami mengajar / mendampingi kawan kawan Teknik Infomatika maupun kawan kawan jurusan lain yang kebetulan juga kami dampingi. Soal rentang waktunya itu terserah dari kami masing masing, yang jelas minimal 2 kali dalam 1 semester, di tengah semester dan di akhir semester. Tapi saya kadang melakukannya sebanyak 3 – 4 kali untuk mahasiswa yang benar benar baru saya ajar, karena klo untuk yang  sudah sering saya ajar, biasanya sudah mengenal karakter saya, dan tentunya saya juga sudah sering menerima kritik dan saran dari mereka.

Kebiasaan ini bukan kemudian muncul begitu saja di kami, kenapa kami melakukan ini semata mata waktu itu karena terinspirasi dari dosen sekaligus pembimbing akademik kami yaitu pak M. Taufiq Nuruzzaman, waktu itu beliau adalah satu satu nya dosen yang secara berkala meminta mahasiswanya untuk memberikan kritik dan saran tentang cara beliau mengajar, bahkan kadang ada yang menyampaikan kritik dan saran bukan hanya soal mengajar tapi juga ke hal lain. Kami disuruh menuliskan dalam secarik kertas apapun yang mau disampaikan tanpa perlu mencantumkan nama, dan yang menjadikan hal ini lebih asyik dan seru lagi adalah hasil tulisan kami dibacakan oleh beliau dan dibahas satu satu.

Dan saya belajar juga dari beliau, bahwa ada beberapa yang menjadi tuntutan dari kami tak semuanya kemudian dia iya kan. Karena mengenai sifat, atau pribadi seseorang ada yang tidak perlu kita ubah sesuai tuntutan orang lain, yang masih saya ingat adalah beliau ini orang cool, low profile. Model model pria kayak gini kan biasanya bikin gemes para wanita kan ya? soalnya banyak yang nuntut waktu itu untuk lebih banyak senyum, ada bercanda nya dikit.  Tapi kemudian tidak serta merta diiyakan, karena memang mungkin itu sudah pembawaan. Hehehehe… Dan benar saja selama 2 tahun (karena kemudian beliau melanjutkan studi nya ke korea) sering ketemu beliau aja kami masih canggung rasanya ketika ketemu di luar kelas.

Pun dengan saya, entah kenapa kegiatan ini, meminta saran dan kritik kepada mahasiswa yang saya dampingi menjadi hal yang sangat menarik bagi saya, jelas selain sebagai bahan evaluasi tentang bagaimana kita mengajar, bersikap, bertutur kata dll. Ini adalah salah satu cara saya melihat diri saya dari sudut pandang orang lain, memang benar kata pepatah bahwa, “Gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang lautan tampak”. Untuk melihat gajah gajah yang ada dipelupuk mata ini saya perlu masukan dari orang lain. Bahkan akhirnya kebiasaan ini tidak hanya berlangsung ketika kegitan belajar mengajar saja, tapi kami terapkan juga di lingkaran kami dengan teman teman seperjuangan, sebagai media introspeksi dan pembenahan diri. Cara ini menjadi ampuh dan asyik, karena kadang sebagai manusia ada rasa ga tega ketika harus menyampaikan kritik atau saran secara langsung, mungkin juga bagi si penerima kritik akan timbul gesekan kepada orang yang memberi kritk, jika kritik itu terlalu menyakitkan. Tanpa nama membuat kita bisa lebih menerima dan tanpa sakit hati.

Tapi justru menjadi menarik, ketika akhirnya saya kontrak bareng dengan saudara saudara saya dari ACEH, waktu itu saya satu satu nya orang jawa yang ada di situ. Jelas dua kultur yang berbeda, saya dibesarkan dalam sebuah kultur yang ewuh pekewuh itu masih dijunjung tinggi, tapi disisi lain kadang harus memendam dan nggrundel sendiri dibelakang kalau ada hal hal yang kita tidak suka, maka sering digambarkan orang jawa dengan blangkon nya. Sedangkan teman teman saya dari Aceh ini lebih suka blak blak an, tapi mesikipun begitu tidak jadi masalah bagi saya, karena saya sebenarnya suka yang blak blak an, omong apa adanya. Jadi media tulisan dikertas tidak berlaku dikita selama kontrak dengan teman teman Aceh, kami ada acara rutin ngaji bareng tiap malam jum’at, di forum itu pulalah kita menyampaikan apa yang menjadi unek unek kita, bahkan saling serang itu sudah hal biasa, tapi menjadi dingin setelah nya, kita tertawa bersama lagi, bercanda bersama lagi. Ahhh, saya jadi kangen dengan saudara saudara Aceh saya ini…. Satu pengalaman hidup yang tak pernah terlupa pernah hidup bersama mereka.

Dan kini lebih dari tiga tahun saya meninggalkan jogja, sudah tak lagi sering bertemu teman teman halaqoh, sudah tidak lagi bersama dengan kawan kawan Aceh, sudah tidak lagi mendampingi teman teman mahasiswa mempraktikan ilmu komputer mereka. Ada rasa rindu diri ini dikritik dan diberi saran. Hampir tiga tahun saya belajar dan bekerja bersama keluarga baru saya di BIG. Akhirnya kemarin coba saya lakukan lagi kebiasaan yang dulu sering saya lakukan. Memulai lagi sesuatu yang sudah lama terhenti ternyata membuat saya grogi, ada rasa tak siap. Tapi karena ada keperluan lain dimana saya perlu mengenal diri saya sendiri lagi, akhirnya terjadilah.

Dari hasil meminta pendapat, kritik dan saran dari teman teman perusahaan, ada satu hal yang menjadi langganan muncul. Entah kenapa, mungkin itu yang disebut sudah pembawaan dan saya sendiri tidak mau merubah nya, dan mungkin juga itu lah yang menjadi salah satu brand saya… hahahahaha… Waktu jadi asisten praktikum dulu yang paling sering muncul adalah, “jangan galak galak” dan “lebih murah senyum”. Sebenarnya sih klo yang sudah kenal saya dekat, saya ini ga galak kok, mungkin karena klo ngomong saya itu keras, jadi kesannya galak, tapi kata kata teman teman di lingkaran saya, klo ngajar, saya memang galak sih. hahahahaha… Makanya itu saya urungkan niat saya untuk jadi dosen, mungkin karena ga cocok ngajar, meskipun saya merasa kurang cocok mengajar tapi saya selalu merindukan kegiatan ini. “Lebih murah senyum” , nahhh ini… ini biasanya datang dari para perempuan, bahkan tak jarang ada yang turut mencantumkan nama mereka. Klo yang soal murah senyum ini sudah coba saya ubah sih tapi hanya kepada wanita tertentu saja, takut pada luluh dengan pesona saya… halah… (ingat umur, udah ga lagi muda) hehehehehe

Dan akhirnya terima kasih pak Taufiq telah memberikan contoh kepada kami, salah satu cara bagaimana untuk memperbaiki diri, mendengar orang lain, melatih untuk berlapang dada menerima kritikan orang lain. Sehingga kita tak lagi jumawa dengan diri kita, bahwa manusia itu tidak luput dari kesalahan, dan tugas kita adalah untuk terus dan terus memperbaiki nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>