Bob Sadino, dan Pengaruhnya dalam Perjalanan Hidup Saya

Seperti yang telah kita ketahui dari media massa bahwa Bob Sadino, Pengusaha nyentrik ini telah meninggal dunia kemarin sore, semoga beliau meninggal dalam keadaan khusnul khotimah, dilapangkan kuburnya, diterima semua amal kebaikannya dan diampunkan kesalahannya.

Bukannya ikut ikut mainstream, tapi memang sosok Bob Sadino sangat membekas di pribadi saya. Banyak kata kata “Quote” dia yang kemudian membukakan pikiran saya dan mengubah mindset saya. Saya lupa tepatnya tanggal berapa, tapi mungkin tahun 2009, waktu saya masih kuliah di Jogja, saya Alhamdulillah dapat kesempatan untuk bisa ikut acara road show entreprenuer campuss Bob Sadino, waktu itu bertempat di Kampus UNY. Sebenarnya nama Bob Sadino sudah cukup lama saya kenal, tapi untuk kemudian bisa duduk dan mendengarkan beliau secara langsung ya baru sekali itu. Beberapa teman sebenarnya sudah saya ajak, tapi sepertinya memang tidak berminat, hingga kemudian saya bertemu teman satu angkatan tapi beda kelas, mas Sidiq Wahyu namanya, yang kemudian dengan dialah saya mulai berguru, bahkan sempat beberapa kali menemani mencoba peruntungan dalam mengembangkan usaha dia.

Ada beberapa poin yang Bob Sadino sampaikan yang kemudian meyakinkan saya, merubah cara pandang saya :

Soal Ilmu Jalanan

Om Bob ini paling seneng memprovokasi orang agar ga usah sekolah, buat apa sekolah, mending langsung berbisnis (buka usaha) saja. Kata kata yang cukup mengundang kontroversi terutama bagi kalangan akademisi. Saya ingat begitu beliau mengeluarkan kata kata itu entah rektor atau dosen yang sebelumnya ikut membuka acara kemudian sekonyong konyong meninggalkan tempat… hehehehehe, waktu itu om Bob memprovokasi mahasiswa untuk drop out saja, ga usah lanjut kuliahnya, dengan kemudian mempresentasikan dalam 4 kuadran. Saya sendiri agak lupa kuadran 3 dan 4, tapi saya ingat betul kudaran 1 dan 2, yaitu kuadran 1 -> Sekolah dan kudaran 2 -> jalanan / masyarakat (dunia kerja). Jadi orang setelah sekolah / kuliah pasti next step nya adalah kembali ke jalanan / masyarakat (dunia kerja) jika kemudian dia tidak mampu bersaing / bertahan dijalanan maka ujung ujung nya dia balik lagi sekolah, lanjut ke studi berikutnya, begitu seterusnya, tapi ketika dia mampu bersaing / bertahan maka dia akan bisa masuk ke kudran 3 dan lanjut ke kuadran 4, jika sudah di kudaran 4 dia bisa masuk ke kuadran 1 -> sekolah, tapi bukan sebagai seorang pelajar, tapi sebagai seorang pengajar, orang yang membagi ilmu nya. Seperti om Bob, tidak perlu punya sekolah tinggi, tidak perlu gelar yang berjejer akhirnya pun juga bisa road show ke kampus kampus berbagi ilmu dengan para mahasiswa. Tentunya ini tidak bisa di generalisir tapi kebanyakan sih iya… hehehe… Bahkan saya mendapati teman yang kemudian lebih memilih balik lagi ketika tak mampu bersaing di jalanan (dunia kerja) bahkan dengan biaya yang cukup tinggi karena bukan kelas reguler, tapi ada juga teman yang sudah bekerja (mampu bersaing di jalanan) tapi kemudian juga melanjutkan studinya (balik ke kampus). Saya pun juga tidak serta merta menganggap bahwa yang kemudian memutuskan untuk kembali ke kuadran 1 (sekolah) adalah orang yang salah jalan, bahkan Ibu, Kakak dan Adik saya termasuk yang lanjut sekolah sampai S2, menurut saya orang yang perlu balik ke sekolah adalah emang orang orang yang berkecimpung di dunia akademisi / pendidikan, kebetulan Ibu, Kakak dan Adik adalah orang orang yang berkecimpung di dunia pendidikan, saya sendiri aja yang nyasar di teknik.

Tentang sekolah tinggi ini soal pilihan sih, saya memilih untuk tidak melanjutkan studi saya ke S2 dan lebih memilih bertarung dan bersaing di kuadran 2 tanpa kembali lagi ke kuadran 1 dan mencoba berusaha pindah ke kuadran 3 dan 4, dan suatu saat bisa berbagi ilmu di kuadran 1. Bahkan Sandiaga Uno pun berbeda pendapat dengan Bob Sadino soal sekolah tinggi tinggi, dia termasuk yang tidak sependapat dengan Bob Sadino, dan meskipun saya termasuk pengagum Sandiaga Uno, tapi mungkin karena sudah sejak SMP saya udah baca bukunya Robert T. Kyosaki yang Rich Dad Poor Dad, jadinya saya lebih condong ke om Bob kali ya… hahahahaha….

Soal Kuliah itu Ibarat Kamu Makan Sampah

Sebenarnya ini juga yang menjadi keresahan saya, ada rasa memberontak terhadap sistem belajar ala kampus ini. Semua mahasiswa pasti tahu yang namanya literatur review, daftar pustaka dsb, dimana setiap kita membuat pernyataan  / kesimpulan / definisi harus mencantumkan sumbernya, kita tidak boleh menarik kesimpulan atau mendefinisikan sesuatu dari hasil pemikiran kita sendiri atau dari hasil penelitian yang kita lakukan, seakan akan kita sudah digiring kemana kesimpulan itu akan berujung. Begitulah om Bob menggambarkan bahwa kuliah itu seperti memakan sampah, sesuatu yang sudah basi, ilmu yang sudah basi, itu itu aja, tidak ada sesuatu yang baru, teori yang kemudian tidak didukung dengan praktik. Padahal ilmu praktik itu sifat nya lebih dinamis, apa yang ada di teori maka belum tentu akan sama ketika diterapkan dalam praktek, dan begitulah kita dijejali ilmu ilmu yang didaur ulang. Padahal seperti kita ketahui dunia kerja dewasa ini lebih mengutamakan skill (pengalaman kerja) daripada gelar yang bejibun, kecuali ketika kita sudah sustain dalam kerja, kemudian memutuskan untuk menambah gelar itu beda lagi, tapi berpikir sekolah tinggi, cari gelar yang banyak tapi ujungnya hanya buat cari kerja, nah mungkin itu yang dimaksud om Bob, ngapain kamu sekolah tinggi tinggi klo ujung ujung nya buat cari kerja (ngaryawan) *berasa namparin diri sendiri….. Mas Jaya Setiabudi dalam bukunya Kitab Anti Bangkrut tidak memasukan knowledge (keilmuan) tapi lebih memilih memasukkan skill (ketrampilan) untuk menjadi pengusaha yang sukses, karena “Skill atau ketrampilan adalah keilmuan yang telah teruji di lapangan, bukan sekedar teori saja. Belajarlah segudang teori pemasaran yang Anda pelajari di bangku kuliah, saya berani jamin akan berbeda di lapangan, apalagi jika Anda menjalankan usaha sendiri. Mengapa? Disamping kebanyakan teori pemasaran di bangku kuliah diperuntukkan perusahaan besar (jarang yang untuk skala UKM), juga studi kasusnya seringkali sudah tidak up to date lagi. Bukan berarti belajar teori tidaklah penting, tapi harus dipraktekkan dan di adjust di lapangannya, agar akurasinya terjaga. Ringkasnya, ketrampilan adalah perpaduan akurasi teori dengan jam terbang.”

Poin inilah yang kemudian meneguhkan saya untuk tidak melanjutkan studi saya (S2), lagi lagi ini soal pilihan lho ya, jadi ga ada yang salah ga ada yang benar mau pilih jalan yang mana. Dan benar saja, lulus kuliah bapak dan ibu begitu hebatnya mendorong saya untuk lanjut S2, dimanapun saya mau lanjut, akan dibiayai, tapi saya menolak dengan taktik, dengan mengajukan syarat, saya mau kuliah S2 jika kuliah saya tanpa biaya pribadi alias beasiswa, sambil mencari alasan lain, karena setelah lulus saya tidak langsung mendapat kerja, saya cari akal gimana sampai batas waktu pendaftaran mahasiswa baru saya sudah ada kesibukan agar bisa jadi alasan, cari ide usaha kesana kemari, akhirnya saya putuskan untuk mengikuti usaha bikin nata de coco yang sebelumnya sudah di rintis oleh teman saya mas Sidiq, dengan bermodal uang gaji dari  asisten praktikum selama kuliah. Tapi tetep juga ikut iseng iseng daftar seleksi beasiswa S2 agar orang tua lega, meskipun ga dapat pembiayaan penuh, tapi dapatlah potongan, orang tua sih udah iya iya aja, tapi saya balikkan lagi ke syarat tadi, akhirnya orang tua nyerah juga, dan seiring waktu pun saya akhirnya bergabung dengan perusahaan yang sekarang, sedangkan usaha nata de coco nya dikelola sama bapak dan ibu.

Soal Cara Pandang 

Sebenarnya perumpamaan ini sudah cukup biasa disampaikan banyak orang, soal gelas dengan air yang diisi setengahnya, ada pilihan anda untuk melihatnya sebagai gelas yang setengah kosong atau gelas yang setengah isi, begitu juga soal bisnis / usaha, coba dibalik cara pandang nya kalau usaha jangan takut rugi, tapi takutlah kalau usaha anda jadi untung. Karena dalam berbisnis / usaha untung ataupun rugi itu hal yang biasa, tapi seringnya kita sudah ketakutan klo rugi gimana ya, sekarang dibalik aja, klo usahaku untung gimana ya? sudah siapkan jika usaha anda jadi untung dan kemudian besar? nahhh….

Kemudian ada lagi, kebanyakan dari kita sering beralasan ga punya modal untuk memulai usaha (termasuk saya). Dengan enteng nya om Bob menanyakan, dengkul anda saya beli 500 juta mau ga? ga mau kan? anggap aja anda sudah punya modal 1 milyar. Begitulah om Bob menampar kami ini yang sering mencari cari alasan, dan begitulah cara om Bob menyadarkan bahwa begitu luar biasanya Allah memodali kita dengan sesuatu yang tidak ternilai harganya. Maksimalkan modal yang Tuhan telah berikan kepadamu!!!

Terimakasih om Bob atas ilmunya, mungkin seperti inilah contoh orang orang yang ilmu nya melebihi umurnya… semoga menjadi amal yang tak pernah terputus meski hayat sudah tidak dikandung badan.

Foto foto di atas saya ambil dari instagram nya mas Saptuari, entrepreneur nyentrik juga dari Jogja yang sempat beberapa kali menemani om Bob melakukan road show nya dan berikut foto foto quote lainnya.

Tiga quote di atas jika ditelan mentah mentah akan terasa menyakitkan bagi yang bersekolah (pinter), tapi ada hal tersirat yang ingin beliau sampaikan sepertinya, dan saya mencoba menangkap pesan yang ingin disampaikan justru jangan terus kemudian memilih menjadi goblok (tidak berpendidikan / tidak sekolah). Tapi, jadi orang pinter itu mbok ya jangan gitu gitu banget, coba diubah cara pandang, atau coba melihat dari sisi lainnya, misal klo udah pinter itu mbok jangan jadi karyawan, tapi jadi pengusaha gitu lho, eman eman (sayang)  klo pinter kok harus ngikut kerja orang.

Lagi lagi ini soal pilihan lho ya… jadi ga ada yang salah dan benar dalam menentukan pilihan masing masing, karena yang menjalani kita, konsekuensi dari apa yang kita pilih adalah kita sendiri yang menanggungnya. Saya sendiri Alhamdulillah masih dalam kondisi sebagai karyawan, jadi masih termasuk orang yang tertampar sama kata kata nya om Bob.

Tentunya pencapaian tergantung dari apa yang kita usahakan, jika kita tidak pernah mengusahakan suatu apapun maka pantang kita untuk iri atas pencapaian pencapain orang lain, dalam Al Qur’an disebutkan “dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS An Najm 39)

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>