Hidup, soal datang dan pergi silih berganti

Beberapa hari terakhir ini banyak hal yang terlintas di pikiran yang ingin dituliskan, tapi selalu aja sok sibuk sampai ga ada waktu untuk menuangkan apa yang ada di otak. Selain karena sudah harus persiapan pulang kampung, juga harus beres beres project, biar sebelum lebaran sudah ada versi release ke client.

Satu hal yang kemudian sangat mengejutkan bagi saya, dan pastinya juga teman teman di perusahaan, yang bagi saya cukup emosional. Hari ini belum hari terakhir perusahaan masuk kerja, karena perusahaan mulai libur tanggal 15 Juli besok. Tapi hari ini saya sudah harus mendahului teman teman pulang karena kebagian tiket kereta nya hari ini. Sedangkan kerjaan bakal dilanjut remote dari rumah, sampai nanti tanggal 14 Juli. Dan hari ini adalah hari terakhir saya bersama salah satu teman, sahabat dan guru saya, karena tanpa disangka sangka kemarin dia pamit, mulai tanggal 26 Juli nanti sudah tidak bergabung lagi di perusahaan. Sebuah keputusan yang cukup mencekat leher saya, sampai tak satupun kata kata yang mampu saya ucapkan selain terimakasih banyak atas segala ilmu yang pernah dibagikan. Kita sudah bersama sama lebih dari 3 tahun, merintis perusahaan ini, menapaki setiap proses dalam membesarkan perusahaan ini. Sebuah kebersamaan yang saya rasa cukup emosional bagi saya, berjuang bersama sama dari era mie instan hingga kemudian bisa sampai era steak daging. Membangun sebuah kultur, selalu memperbaiki proses pengembangan software terus menerus, tertawa bersama, bahkan saling bebagi cerita tentang apapun, suka duka dalam pengerjaan proyek. Tahapan dimana kita ingin membesarkan perusahaan ini, seperti kita membesarkan anak kita sendiri.

Pada akhirnya, ya beginilah perjalanan hidup, bahwa ada pertemuan maka ada perpisahan, ada datang ada pergi, kita ga akan pernah tahu akan berapa lama kita bisa bersama dengan seseorang. Apalagi dalam perusahaan, datang dan pergi silih berganti adalah sebuah keniscayaan. Kita tidak bisa menahan seseoran untuk terus bersama kita, bahwa jodoh itu sudah jadi ketetapanNya.

Kehilangan seorang guru, tentu sangat menyesakkan bagi saya. Setiap orang yang saya bertemu dan kemudian bersamanya, selalu saya anggap sebagai guru, saya selalu berharap ada ilmu yang saya ambil dari siapapun yang saya temui. Bahwa, kemudian ada guru yang baik dan guru yang buruk, maka tetap kita ambli pelajaran dari nya. Di perusahaan ini guru guru baik lah yang saya temui, meskipun kadar nya tentu berbeda beda. Ada 3 guru yang saya anggap luar biasa, yang allah takdirkan saya bertemu dengannya, tentu selain CEO dan CTO saya. Tiga orang ini adalah teman seperjuangan, dalam posisi yang sama. Setiap saya mau mengeluh tentang load kerjaan, kemudian saya melihat beliau bertiga ini jadi malu ingin mengeluh. Guru pertama saya ini, guru yang mengajari saya coding, jika kemudian Allah ridho dengan ilmu itu, semoga menjadi pahala yang tak pernah berhenti mengalir. Guru yang kedua, adalah kakak angkatan saya, sekaligus yang mengajak saya bergabung di perusahaan ini, sudah menjadi guru saya sejak saya mulai kuliah, pun sampai dunia kerja.

Sedangkan untuk guru yang satu ini, sama sama berkesan bagi saya. Beliaulah yang pertama kali menginisiasi budaya sharing knowledge di perusahaan ini. Saya sangat ingat, ilmu yang pertama dia sharing adalah tentang bikin wordpress theme, karena waktu itu project pertama yang dia pegang adalah customize wordpress. Dari sanalah kemudian saya jadi tahu, bahwa ternyata membuat wordpress theme itu mudah, dan karena itulah kemudian saya tergugah untuk belajar membuat theme worpdress. Sampai sekarang sudah beberapa theme wordpress yang sudah saya bikin, berkat pancingan ilmu dari beliau. Semoga ini menjadi ilmu yang bermanfaat, dan pahala nya terus mengalir untuk beliau. Membuat orang menjadi mengerti dan paham, apalagi mengesankan sesuatu itu mudah bukanlah perkara gampang. Butuh jam terbang dan keahlian untuk mentransfer ilmu nya, selain itu juga butuh kesabaran, keikhlasan dan ketelatenan. Itulah yang saya alami selama menjadi asisten praktikum waktu masih menjadi mahasiswa. Dan sampai sekarang beliau menjadi salah satu guru favorit bagi teman teman di perusahaan.

Luruh semua kesombongan saya waktu kenal beliau ini, beliau ini lulusan SMK dan kemudian lanjut S1 dapat beasiswa. Tapi skill nya yang dia punya luar biasa, beliau ini orang jaringan yang mahir coding. Sebuah skill yang sangat langka, apalagi background dia yang dari SMK. Maka sungguh tak pantas saya membanggakan tingkat pendidikan saya. Jauh sungguh jauh, tak ada kemampuan yang bisa saya tunjukkan. Jujur, saya baru benar benar mendalami dunia programming (coding) setelah gabung dengan perusahaan ini. Sebelum nya hanya dasar saja, dan itupun sudah merasa bangga, apalagi dengan gelar dan almamater yang dibawa, dengan segala teori yang sudah dienyam. Bener kata mas Jaya Setiabudi, lebih utama skill daripada knowledge kalau untuk terjun di jalanan (dunia kerja) karena skill merupakan hasil dari knowledge yang sudah dikalibrasi dengan praktek. Bahwa kenyataan dunia kerja lebih dinamis dari pada dunia pendidikan. Kalau kemudian kita tidak mampu menjadi fleksibel mengikuti perkembangan dan mengasah skill kita, maka siap siap lah terlindas oleh generasi yang haus belajar.

Selain skill, tentu ada pelajaran hidup yang saya ambil dari beliau. Saya sering hidup tidak jauh dari lingkup organisasi, pun Allah selalu mengirimkan teman teman yang baik bagi saya. Tapi untuk urusan sosial secara langsung, mempunyai gerakan berbagi secara langsung, dari guru inilah saya belajar. Saya selalu kagum dengan orang orang disela kesibukannya masih bisa menyempatkan waktu nya, menyisihkan rezeki nya dan memberikan tenaga untuk urusan orang lain, untuk membantu orang lain yang kurang beruntung. Yang terakhir ini beliau mulai mewujudkan mimpinya membuat taman baca untuk anak anak.

Ada teman yang nanya ke saya, “kenapa dia keluar, ada yang salah dengan kita (perusahaan) gitu?”. Ini bukan soal salah benar, tapi ini soal pilihan.

Akhirnya selamat melanjutkan karya di tempat lain guru, semoga kesuksesan selalu meyertaimu, meskipun kita sudah tidak lagi berjuang dalam satu atap yang sama, saya yakin kita masih berjuang dalam satu nilai yang sama. Sekali lagi beribu terimakasih saya ucapkan atas ilmu, bantuan dan pelajaran hidup, saya mohon maaf jika selama ini menjadi murid yang menjengkelkan, keluar kata kata yang tidak berkenan dari mulut saya.

Lodaya Malam Lebaran, 10 Juli 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>