Tak lelo ledhung dan do’a yang terselip di dalamnya

Tiba tiba pagi ini, menjadi pagi yang cukup emosial, tak terasa air mata ini menetes.

Lagu ini seakan akan membawaku kembali ke masa lalu, saat tubuh ini masih kuat digendong oleh tubuh ibu yang kecil. Dekapan yang begitu hangat, dan rasa sayang yang terpancar dari setiap bait bait yang beliau nyanyikan kalau saya mulai rewel. Dengan selendang lembutnya, digendong nya saya, penuh kasih beliau belai saya, tak ingin anak nya ini berlarut larut dalam tangisan. Sampai kemudian saya terlelap dalam buaian hangat wanita mulia yang kasih sayang nya sepanjang masa.

Tak lelo lelo ledhung, cep meneng ojo pijer nangis
Anakku sing ayu (bagus) rupane, nek nangis ndak ilang ayune (baguse)

Tak gadang biso urip mulyo, dadiyo wanito (prio) utomo
Ngluhurke asmane wong tuwo, dadiyo pandekaring bongso

Wes cep menengo anakku, kae mbulan ne ndadari
Koyo butho, nggegilani lagi nggolekki cah nangis

Tak lelo lelo ledhung, wes cep meneng anakku cah ayu (bagus)
Tak emban slendang bathik kawung, nek nangis mundak Ibu bingung

Dalam Bahasa Indonesia kurang lebih seperti ini :

Tak lelo lelo ledhung (timang timang), cep jangan nangis terus
Anakku yang cantik (ganteng) wajahnya, kalau nangis nanti hilang cantiknya (gantengnya)

Aku do’a kan kelak bisa hidup mulia (sejahtera), jadi wanita (pria) yang utama (berbudi luhur tinggi)
Mengharumkan nama orang tua, menjadi pendekar bangsa (pembela bangsa)

Sudah, cep jangan nangis lagi anakku, lihat itu rembulan sedang bersinar terang (bulat penuh)
Seperti (mata) raksasa yang mengerikan (melotot), mencari anak yang sedang nangis

Tak lelo ledhung (timang timang). sudah jangan nangis lagi anakku yang cantik (ganteng)
Aku gendong pake selendang bathik kawung, kalau masih nangis nanti ibu bingung.

Oktober dan November ini genap 60 tahun umur bapak dan ibu, waktu begitu cepat berlalu, saya yang dulu mungil kini sudah segede ini, dan tanpa terasa bapak ibu sudah sepuh, November ini ibu sudah resmi pensiun dari pengabdiannya sebagai guru setelah 29 menjadi pengajar. Diumurnya sekarang bapak dan ibu sudah seharusnya bisa menikmati hari tua nya dengan hidup yang lebih ringan, karena 3 anak nya boleh dikata sudah mentas semua, sudah selesai semua sekolahnya (tinggal adik yang rencana akhir tahun ini beres tesis nya), tapi ternyata jalan takdir berkata lain, di usia senja mereka, bapak dan ibu masih harus bergelut dengan keras nya hidup, belum bisa merebahkan tubuh mereka yang sudah mulai renta.

Sebagai anak, masih ada kewajiban yang belum bisa saya penuhi sampai sekarang, hal yang sekarang sedang saya usahakan, ternyata belum mampu meringankan beban mereka berdua. Kadang tak kuasa, harus melihat mereka masih bekerja, bahkan tidak lebih ringan dari sebelumnya. Tapi apapun itu, tak pernah saya lihat keluhan keluar dari kedua malaikat saya ini, meskipun guratan guratan yang nampak dari dari wajah wajah teduh mereka, keriput yang mulai menyinggahi kulit kulit mereka, telapak tangan yang dulu lembut membelai tubuh ini, justru sekarang makin kasar. Mengisyaratkan bahwa beban berat masih harus mereka hadapai di usia senja mereka. Ya Allah, lindungilah kedua orang tua saya dimanapun berada, mudahkanlah urusan mereka berdua, ringankanlah beban mereka, selalu tuntunlah mereka di jalan-Mu, berkahilah semua kerja keras mereka, dan sayangilah mereka berkali kali lipat melebihi rasa sayang mereka kepada hamba.

Anak bayimu ini sekarang sudah tidak lagi kecil, bahkan sudah saat nya nyanyian ini gantian saya yang menyanyikan ke cucu mu. Do’a yang ibu selipkan dalam bait bait cinta, insya Allah masih saya usahakan, Percaya Allah tidak akan menyia nyiakan apa yang bapak ibu usahakan selama ini, jangan pernah berhenti untuk mengemban saya meski tak bisa lagi dengan selendang bathik kawung lagi, tapi tetap emban saya dengan bait bait do’a yang bapak ibu panjatkan.

“Bapak ngga ingin membuat kamu buru buru, tapi bapak juga ga ingin nunggu lebih lama lagi”, saya tahu maksud dari kata kata bapak sebelum saya berangkat bandung bulan lalu. Dan saya masih terus berusaha dan berusaha, tidak ada kata menyerah seperti apa yang telah bapak ibu ajarkan dan contohkan selama ini.

 

Teruntuk kedua malaikatku, dari anak kedua mu yang paling bandel. 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>