Sepenggal Kisah Perjalanan Hidup diawal Tahun

Dulu waktu menjelang akhir akhir kuliah, semacam ada kegiatan rutin di akhir tahun atau awal tahun untuk main ke purworejo selain berkunjung ke rumah mas Wachid sekalian turut menikmati panen durian di daerah Purworejo. Tak terasa ternyata sudah 4 tahun saya tidak merasakan nikmatnya makan durian purworejo ( sampe kenyang ). Pas libur tahun baru kemaren, niatnya ingin mengulangi kenikmatan 4 tahun yang lalu. Kalau dahulu dengan mudahnya mengoordinasi teman teman untuk menyerbu purworejo, tapi kemaren hanya 3 orang yang sepakat untuk pergi kesana. Janjian jam 7 pagi berangkat dari daerah Krapyak, saya sendiri jam 6 pagi baru berangkat dari Sukoharjo menuju Jogja, sedangkan Imam, dibela belain berangkat jam 3 pagi dari Pati menuju Jogja.

Masuk daerah kalasan, mendung pekat tampak jelas menggelayut di langit jogja. Hati ini sudah was was, berharap ini hanya mendung saja jangan sampai turun hujan.  Naik fly over janti daerah barat sudah terlihat hujan turun, mendekati perempatan bantul barat, mobil mobil dari arah berlawanan sudah terlihat basah, dan benar saja sesampainya terminal giwangan hujan turun deras, waktu sudah menunjukan pukul 7 lebih 15 menit. Akhirnya saya putuskan untuk berteduh di emperan toko yang masih tutup, sambil berharap hujan reda, karena perjalanan ke Purworejo masih jauh. Tak selang berapa lama hujan mulai agak reda, saya putuskan untuk nekat melanjutkan perjalanan menuju ke kos an Imam di krapyak, Pukul 8 pagi sampai juga saya di Krapyak, dan perempatan Kandang Menjangan sudah terendam air menggenang cukup tinggi. Sesampai nya kos an Imam, ternyata dia baru saja sampai juga.

Lihat WA, ternyata satu teman lain menyatakan untuk tidak jadi ikut karena ada urusan mendadak. Apa boleh buat, ya udah berdua saja yang pergi ke Purworejo, membayangkan kenikmatan durian membuat kita semakin mantap memutuskan untuk berangkat. Tapi ternyata cuaca lah yang memaksa kami untuk mendekam lebih lama di kos an, hujan turun lagi dan lebih lebat. Menunggu hujan tak kunjung reda, apalagi kemaren hari jum’at, mau tidak mau kami harus memupuskan harapan kami untuk menikmati durian layak nya 4 tahun lalu. Berkunjung ke tempatnya mas Wachid pun akhirnya batal, karena hujan baru reda sekitar pukul 10 pagi.

Untuk mengobati rasa kecewa kami, terutama Imam yang sudah dibela belain dari Jam 3 pagi, diputuskan untuk menikmati duren di Jogja sadja. Muter muter di daerah Kusumanegara, Timoho, TVRI masih pada tutup atau entah ga jualan, satu satu nya yang buka adalah yang di depan GOR UNY. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 kamipun makan siang dulu, takutnya klo perut kosong dan dihantam duren, malah jadi urusan. Setelah makan, langsung menuju ke GOR UNY, tanya harga langsung dihadapkan dengan harga mulai dari 60 – 120 ribu per buah, yang 60 ribu pun kecil kali. Makan duren nya di tempat itupan kami urungkan dan mencoba peruntungan kembali ke jalan timoho, sesampai nya di sana ternyata buka warung durennya. Setelah tawar menawar, didapatlah dua buah duren seharga 100 ribu, yang pertama manis yang kedua pahit. Nahhhh, duren yang kedua itu yang mantabbb, membuat efek melayangnya lebih cepat. Perasaan dulu setelah 3 buah baru kerasa efeknya, ini 1 buah aja kok udah kerasa. Sorry klo yang ini ga ada foto belah durennya, karena saking sibuknya mengelamuti duren, sampai kelupaan buat memfoto. Hehehehehe…

Selepas menikmati durian, kami lanjutkan untuk sholat jum’at di Masjid yang tidak begitu jauh dari situ. Karena sudah tidak ada agenda lagi setelah jum’at an, kami sempat bingung mau kemana lagi. Cobalah kami mengingat ingat teman yang masih ada di Jogja yang sekiranya lama tidak pernah berjumpa terutama saya, akhirnya kami putuskan untuk main ke rumah salah satu teman. Saya sendiri benar benar sudah sangat lama banget ga ketemu apalagi saat pernikannya saya ga sempat datang. Jadilah kita pergi ke daerah Sedayu Jalan Wates. Perjalanan kami tempuh kurang lebih satu jam, terasa sangat lama karena macetnya jogja kemaren.

Kami ngobrol begitu asyik, karena keduanya suami – istri ini adalah teman semua, jadi alur cerita obrolannya ga beraturan… hahahahaha… Ada yang mengingat ingat kekonyolan masa lalu, ada ngomongin tentang masa depan, ada ngobrolin tentang keadaan sekarang. Dan yang tak pernah saya lewatkan ketika mendapati teman yang sudah punya rumah sendiri, adalah pasaran harga rumah di situ, dan saya dibuat tercengang dengan harga propeti jogja sekarang.  Saking asyik ngobrol tiga setengah jam pun terasa sebentar sekali, setengah enam akhirnya kami pamit untuk pulang ke Krapyak lagi.

Sesampai nya di kos, bersih bersih badan, sholat istirahat bentar, kemudian tiba tiba saja saya teringat dengan mas Said, kakak angkatan saya yang sudah cukup akrab, beberapa waktu lalu saya pernah janji mau maen ke rumah nya kalau pas lagi di Jogja. Dan kebetulan sekali, rumah nya tidak jauh dari kos an Imam di Krapyak. Rencananya sih malam itu mau sekalian main kesana, tapi karena badan sudah terlalu lelah, akhirnya besok pagi nya saja kami main ke tempat mas Said. Malam itu kami kabari mas Said bahwa besok kita mau berkunjung.

Sekitar pukul 9 pagi kami menuju rumah sekaligus tempat usahanya yang baru di Jalan Parangtritis, begitu masuk workshop nya cukup membuat saya berdecak kagum, usaha yang dijalani selama ini dengan segala lika liku prosesnya sudah sampai pencapaian yang membuat saya hanya bisa berkata “hebat”. Saya sendiri tahu bagaimana sepak terjang mas Said dari saya awal kuliah, sebagai angkatan pertama di program pendidikan Teknik Informatika dia cukup getol untuk membangun organisasi organisasi yang mendukung prodi baru ini, saya ingat banget untuk pertama kalinya kenal mas Said saat merintis organisasi kemahasiswaan pertama di lingkungan prodi kami, yaitu Infinity di sebuah masjid kecil di dekat kampus UIN Maguwoharjo (sekarang jadi Hotel University), saya pun sempat menjadi pengurus organisasi ini di periode kedua melanjutkan tongkat estafet dari kakak angkatan. Selepas menjabat ketua Infinity ini mas Said lanjut mengurusi pembentukan BEM  di fakultas yang memang belum ada, dan kembali menjabat sebagai ketua BEM prodi. Begitu seterus nya saat dia mulai bikin CV sendiri, saya kira dialah orang yang pertama dilingkungan mahasiswa prodi TIF yang punya inisiatif untuk bikin CV, yang saat itu cukup menginspirasi salah satu guru bisnis saya mas Sidiq (yang mengajari saya bisnis Nata De Coco) untuk bikin CV juga. Nama CV nya Indo Solution, waktu itu produk yang ditawarkan kalau ga salah ingat adalah Sistem Informasi, karena yang ikut menawarkan produknya adalah teman satu kelas saya, mas Ichsan, waktu itu saya sempat baca baca juga proposal nya. Disaat saya menikmati kebanggaan menjadi mahasiswa yang menghabiskan uang orang tua… hehehehe, mas Said ini sudah mulai merintis usaha sendiri. Selain itu sempat juga merintis usaha warung makan partner an dengan pacarnya (yang sekarang sudah menjadi istrinya), yang teman satu angkatan dengan saya. Buka warung di daerah utara stadion Mandala Krida, waktu itu Anggi (istri mas Said) sempat promosi untuk mampir ke warung yang mereka rintis, tapi setiap lewat sana kok tutup, sampai akhrinya tahu emang sudah tutup usaha warung makannya.  Setelah itu saya sudah kurang up to date lagi dengan kegiatan mas Said, karena saya sendiri mulai disibukkan dengan tugas akhir, ketemu pun hanya sesekali. Sampai kemudian dapat kabar kalau mas Said sekarang usaha jualan air RO, punya 2 kios, waktu itu pun saya sempat under estimate juga, “masak mas Said kok malah jualan air? ga rugi tuh ilmu informatika nya?” (biasalah tanggapan saya ke orang lain yang melenceng dari keilmuannya, apalagi status saya sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sedang galau dengan Skripsinya dengan segala idealismenya dan angan angan di awang awang bisa kerja di perusahaan multinasional, tapi belum pernah tahu bagaimana kerasnya dunia kerja. hehehehe). Sampai kemudian waktu lah yang berbicara, saya mulai hijrah ke Bandung, komunikasi lewat sosial media lah yang masih terjalin, kabar keduanya menikah dan pertumbuhan usaha mereka berdua pun dari sosial media lah saya tahu, saya lihat paangan ini emang getol kerja, Anggi sendiri saya lihat pernah mencoba beberapa bidang usaha, dan diantara masih jalan sampai sekarang, maka kemudian tidak heran dengan pencapaian mereka sekarang.

Kadang kebanyakan orang hanya melihat hasilnya tanpa mau melihat prosesnya, “enak ya punya bisnis milyaran”, “enak ya punya rumah besar”, “pingin ih, punya mobil kayak dia”, tapi bisa jadi ketika disuruh untuk melalui proses yang sama, hanya keluhan yang keluar, putus asa yang dinampakkan, menyerah yang diutamakan.

Kesuksesan tidak lahir dari bermalasan dan tawa tapi lahir dari kerja keras dan air mata, klo kata abah Dahlan Iskan. “Orang hebat tidak dihasilkan dari kemudahan, kesenangan dan kenyamanan meraka dibentuk dari kesukaran, tantangan dan air mata”. Pepatah jawa mengatakan, “Sopo Sing Temen Bakal Tinemu” ini sama maknanya dengan “Man Jadda Wajada”, Siapa yang bersungguh sungguh ia akan mendapatkan. Seenggaknya itulah yang menggambarkan dari insight yang mas Said ceritakan ke saya dan Imam. Wawasan yang tentunya lagi lagi menampar saya yang masih berkubang di kenyamanan. Sungguh sangat jauh jika saya harus iri dan bahkan tidak layak iri dengan pencapain mas Said saat ini.

convenience is the mother of distraction, so make it a pain in the butt to satisfy your temptations :D

Akhirnya lawatan saya ke Jogja kali ini saya tutup dengan berkunjung ke rumah sahabat saya Rifki, sambil nengokin keponakan yang tanggal 4 besok ini sudah berumur 1 tahun. Saya ingat betul waktu dulu lahiran Debian juga hari terakhir saya liburan di Jogja karena esok hari mau berangkat ke Bandung, jadi saya sempatkan untuk nengok sekalian dari pada nanti nanti harus nunggu waktu pulang lagi dari Bandung, dan hari ini Setahun kurang 2 hari saya baru sempat lagi nengokin Debian. Klo dulu masih bayi yg baru saja lahir, hari ini sudah mau pamer senyumnya yg menawan, dagu kecilnya yang bikin pengen nyubitin. Dan tentunya Abu Debian yang selalu menjadi teman seru untuk ngobrol apapun. Sayang karena udah magrib dan buru buru balik ke Sukoharjo karena takut kemalaman,  jadi kelupaan foto sama Debiannya deh. Hehehehe…

Salah satu hal perlu disyukuri adalah ketika Allah mengirimkan orang orang baik hadir dalam kehidupan kita.

Dan dari yang rencananya mau pesta durian ke purworejo, tapi kemudian hujan menahan kami di Jogja, akhirnya malah bisa berkunjung ke sahabat, kawan, saudara  yang sudah lama ga berjumpa. Siapa sangka disaat saya diberi kesempatan untuk main ke tempat mas Said, justru malah bebarengan dengan 4 bulanan nya Anggi. Doakan sehat terus untuk ibu dan bayi nya ya teman teman. Selalu ada hikmah dibalik gagalnya sebuah rencana manusia. Gagal, kecewa adalah cara kita menyebut ketika keinginan Tuhan tidak sesuai dengan keinginan kita.

Last but not least,  jika ingin merasakan bahagia coba berkunjung ke tempat teman teman mu. Bahagia itu sederhana, as simple as that.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>